Kumpulan Cerita Sex Koleksi Cerita Dewasa Terbaru Tak Kuat Menahan Godaan Ibu Tari
Kumpulan Cerita Sex Koleksi Cerita Dewasa Terbaru Tak Kuat Menahan Godaan Ibu Tari

Cerita Sex Terbaru – Tak Kuat Menahan Godaan Ibu Tari

Kumpulan Cerita Sex Koleksi Cerita Dewasa Terbaru – Tak Kuat Menahan Godaan Ibu Tari – Kejadiannya 13 tahun yang lalu, saat aku masih kuliah disebuah kota S di P. J. Aku mempunyai
teman satu angkatan satu jurusan Yon namanya, berasal dari kota W. Kami begitu lengketnya,
study, ngobrol, jalan ngalor ngidul, nga pelin cewek satupun sering barengnya. Sampai
kecewapun sering bareng-ba reng. Yon sianak “bocor” tapi baik hati itu tinggal dirumah tantenya
(yang bia sa aku panggil Ibu Tari) yang hanya punya anak gadis semata wayang. Itu pun begitu
lulus S1 Manajemen perusa haan langsung dilibas habis kegadisan nya sama pacarnya,dalam
suatu perka winan, terus diboyong ke Jakarta.

Kisah Biru | Tinggallah Ibu Tari ini sama suaminya yang pengusaha jasa konstruksi dan trading itu dengan
pembantu dan sopir . Kebetulan Yon ini keponakan kesaya ngan. Wajar saja dia suka besar
kepala karena jadi tumpahan sayang Ibu Tari. Sampai suatu saat dia minta tinggal di luar rumah
utama yang sebenarnya berlebih kamar, ya si tante nurut saja. Alasan Yon biar kalau pulang
ngelu yur malam, tidak mengganggu orang rumah karena minta dibukakan pintu. Ruang yang dia minta dan bangun ada lah gudang disebelah garasi mobil. De ngan selera anak
mudanya dia atur in terior ruangan itu seenak perutnya. Se tengah selesai penataan ruang yang
ak hirnya jadi kamar yang cukup besar I tu, sekali lagi Yon menawarkan diri a gar aku mau
tinggal bersamanya. Saat itu Ibu Tari, hanya senyum-senyum sa ja. seperti dulu-dulupun aku
menolak nya. Gengsi dikitlah, sebab ikut tinggal dirumah Bu Tari berarti semuanya ser ba gratis,
itu artinya hutang budi, dan artinya lagi : ketergantungan. Biar aku suka pusing mikirin uang kost
bulan an, makan sehari-hari atau nyuci paka ian sendiri, sedikitnya dikamar kostku aku seperti
manusia merdeka. Lha wong aku bayar!.
Tapi hari itu, entah karena bujukan mereka, atau karena sayangku juga pa da mereka dan
sebaliknya sayang me reka padaku selama ini. Akhirnya aku terima juga tawaran itu, dengan per
janjian bahwa aku tidak mau serba gratis. Aku maunya bayar, walaupun uang bayaran kostku itu
ibarat ngen cingin kolam renang buat Bu Tari yg memang kaya itu. Toh selama ini aku
menganggap rumah Bu Tari ini rumah kostku yang kedua, sebelumnya sering juga aku nginap
dan nongkrong ham pir setiap hari disini.
Ada satu hal sebenarnya yang ikut jg menghalangiku selama ini menolak ta waran Yon atau Bu
Tari untuk tinggal dirumahnya. Entah kenapa aku yang a nak muda begini, suka merasakan ada
sesuatu yang aneh didada kalau berta tapan, ngobrol, bercanda, diskusi dan berdekatan dengan
bu Tari. Perempuan yang selayaknya jd tante atau bahkan ibuku itu. Buatku ibu Tari bukan ha
nya sosok perempuan cantik atau sedi kitnya orang yang melihatnya akan menilai bahwa
semasa gadisnya bu ta ri adalah perempuan yang luar biasa. Bukan hanya sekedar bahwa
sampai setua itu ibu tari masih punya bentuk tubuh yang meliuk-liuk. Senyumnya, dada,
pinggang, sampai kepinggulnya suka membuatku susah tidur dan ba ru lega jika aku beronani
membayang kan bersetubuh dengannya. Jika aku beronani tidak cukup kalau cuma nge cret
sekali saja.
Gejala apa ini, apakah wajar aku terobsesi sosok perempuan yang tidak hanya sekedar cantik,
tapi berintelegensi bagus, penuh kasih dan mature. Buatku secantik apapun perempuan jika
tidak punya tiga unsur itu, hambar dalam selera dan pandanganku. Seperti sebuah buku kartun
yang tolol dan tidak lucu saja layaknya. Malangnya ibu Tari memiliki semua itu, dan lebih
malangnya lagi aku. Dibawah sadar sering aku diremas-remas iri dan cemburu jika melihat ibu
Tari berbincang mesra atau melayani pak Bagong, suaminya. Begitu telaten dan indah. Gila!.
Selama aku tinggal dirumah Bu Tari itu, pada awalnya semua biasa saja. Perhatian dan sayang
Bu Tari kurasakan tak ada bedanya terhadapku dan Yon. Kupikir semua ini naluri keibuannya
saja. Tetapi semua itu berjalan hanya sampai kurang lebih 4.
Disuatu malam dari balik jendela kamarku kulihat beberapa kali ibu tari keluar masuk rumah
dengan gelisah menunggu Pak Bagong yang sampai jam 22.00 belum pulang. Sebentar dia
kedalam sebentar keluar lagi, duduk dikursi, memandang kejalan dengan muka gelisah,
membalik-balik majalah lalu masuk lagi. Keluar lagi. Kuperhatikan belakangan ini ibu Tari begitu
murung. Ada masalah yang dia sembunyikan. Senyumnya sering kali getir dan terpaksa.
Aku beranjak kekamar mandi untuk kencing. Buku Nick Carter yang sedari tadi membuat
kontolku ngaceng kugeletakan dimeja. Tapi begitu aku kembali ternyata bu Tari sudah duduk
dikursi panjang di kamarku memegang buku itu. Aku hanya meringis ketika bu Tari meledekku
membaca buku Nick Charter yang pas dicerita ah-eh-oh kertasnya aku tekuk. Sesaat setelah
kami kehabisan bahan bicara, muka Bu Tari kembali mendung lagi. Dia berdiri, berjalan kesana
sini dengan pelan tanpa suara merapikan apa saja yang dilihatnya berantakan. Sprei tempat
tidur, buku-buku, koran, majalah, pakaian kotor dan asbak rokok.Ya maklum kamar bujanganlah.
Aku pindah duduk dikursi panjang lantas mematung memperhatikannya. Seperti tanpa kedip.
Semua yang dilakukannya adalah keindahan seorang perempuan, seorang ibu.
Setelah selesai, sejenak bu Tari hanya berdiri, melihat jam didinding lalu menatapku dengan
mata yang kosong. Aku coba untuk tersenyum sehangat mungkin. Bu Tari duduk disampingku.
Mukanya yang tetap murung akhirnya membuatku berani bicara mengomentari sikapnya
belakangan ini dan bertanya kenapa?. Bu Tari tersenyum hambar, menggeleng-gelengkan

kepala, diam, menunduk, menarik napas dalam dan melepasnya dengan halus. Sunyi. Seperti
ingin to the point saja, bu Tari menceritakan masalah dengan suaminya.
Seperti kampung yang diserbu provokator dan perusuh saja, otakku tercabik-cabik,
terbuka.Hubungan bu Tari dengan suaminya selama ini ternyata semuanya penuh kepurapuraan.
Kemesraan mereka semu tak bernurani, bagai sebuah ruangan setengah kosong, dan
setengahnya lagi sekedar keterpaksaan pelaksanaan kewajiban saja. Bu Tari berada
didalamnya. Suaminya tahu tapi seperti sengaja membiarkannya memikir, menghadapi dan
menyelesaikannya sendiri.Menerima keadaan.
Entah karena kesepian, butuh orang sebagai tumpahan hatinya yang kesal dan rasa disiasiakan.
Bu tari menceritakan bahwa pak Bagong sudah lama mempunyai istri simpanan
disebuah perumahan menengah pinggir kota. Tak pernah hal ini dia ceritakan kepada siapapun
juga kepada anaknya sendiri mbak Clara di Jakrta. Sama dengan kebanyakan istri-istri pejabat
yang walaupun tahu suaminya punya simpanan perempuan, bu Tari hanya bisa menahan hati.
Konon katanya, justru sebenarnya banyak istri pejabat yang malah mencarikan perempuan
khusus untuk dijadiakn simpanan suaminya sendiri, demi keamanan ,nama baik” dan jabatan.
Biar sisuami tidak asal hantam dan makan sembarang wanita. Toh, Istri ta
“Bu tari marah?” tanyaku. Dia menggeleng-geleng dan malah balas menciumku, menyenderkan
kepalanya miring dipundakku dan melingkarkan tangan kanannya dipinggangku. Kupeluk dia.
Lama sekali rasanya kami saling berdiam diri. Tapi aku merasakan kedamaian yang luar biasa.
Sampai akhirnya suara motor Yon yang katanya habis diskusi dikelompok studinya tiba dan
suara pintu gerbang terbuka.
Sejak kejadian malam itu hubunganku dengan Bu Tari jadi kian aneh. Mungkin awalnya hanya
sekedar memperlihatkan rasa sayang dan cinta layaknya seorang anak pada ibunya dan
sebaliknya. Walau dengan diam-diam disetiap kesempatan yang ada kami saling tidak
menyembunyikan semua itu. Bertatapan dengan mesra, bercanda dan saling memperhatikan
lebih dari dulu-dulu.
Tapi seperti air yang tak diatur, semua mengalir begitu saja. Kian lama bu Tari dan aku berani
saling mencium. Cium sayang dan lembut disetiap kesempatan yang ada tanpa seisi rumah tahu
Tapi kegalauan dihatiku tetap saja tak dapat kuingkari. Sering aku bertanya sendiri : sayangku,
cintaku, ciumanku dan pelukanku pada Bu Tari apakah manifestasi seorang anak pada sosok
ibunya, atau seorang lelaki pada seorang perempuan. Hati dan otakku setiap hari dililit
pertanyaan sialan itu. Begitu menjengkelkan.
Semua itu berjalan sampai tak dapat kuingkari bahwa birahi selalu mengikutiku jika aku
berdekatan dan mencium Bu Tari. Selama ini aku berusaha menekannya. Tapi itu meledak
disuatu sore yang sepi. (Baca Juga : Cerita Sex Terbaru – Ngentot Dengan Ibu PNS Cantik dan Montok)

Semula aku hanya ingin meminjam koran yang biasanya tergeletak diruang keluarga rumah
utama. Tapi saat kulihat Bu Tari tengah berdiri menikmati ikan-ikan hias aquariumnya. Tiba-tiba
aku ingin menggodanya. Aku berjingkat perlahan dan menutup kedua matanya dengan tanganku
dari belakang. Ibu Tari kaget berusaha melepaskan tanganku. Aku menahan tawa tetap menutup
matanya. Tapi akhirnya Bu Tari mengenaliku juga. Kukendorkan tanganku.
“Wiiiinnn kamu bikin kaget ibu saja akh..” Ucap Bu Tari tetap membelakangiku dan menarik
kedua tanganku kedepan dadanya. Bu Tari bersandar didadaku. Kedua tanganku tepat
mengenai payudaranya yang kurasakan empuk itu. Gelora aneh mengalir didarahku. Sementara
Bu Tari terus mengomentari ikan-ikan didalam aquarium, aku justru memperhatikan bulu-bulu
lembut dileher jenjangnya Rambutnya yang lurus sebahu saat itu tertarik keatas dan terjepit
jepitan rambut, hingga leher bagus itu dapat kunikmati utuh. Aku berdesir. Kurasakan napasku
mulai berat. Dengan bibirku akhirnya kukecup leher itu. Bu Tari merintih kegelian dan mencubit
lenganku dengan genit.
“Hiiiii. Jangan Wiiinnnn akhhhh…Merinding ibu ah”
Dekapan tanganku ditetek dan dadanya makin kuat. Ketika kuperhatikan dia tidak marah dan
tenang maka kuulangi lagi kecupan itu berulang-ulang. Kumis dan bekas cukuran dijanggutku
membuatnya geli. Tapi kurasakan tangan Bu Tari perlahan mencengkram erat dikedua jariku dan
dia diam saja. Aku makin bernapsu. Ciuman, kecupan dan hisapan bibirku makin menjadi-jadi
keleher dan telinganya. Bu Tari mendesah memejamkan mata. Kepalanya bergerak-gerak
mengikuti cumbuanku. Matanya terpejam dan napasnya menggelora. Kucari bibirnya, karena
susah maka kuputar tubuhnya menghadapku dan langsung kusambar dengan bibirku. Kupeluk
erat Bu Tari. Dia menggeliat membalas permainan bibirku. Kedua tangannya memegangi bagian
belakang kepalaku seolah takut aku melepaskan ciuman bibirku. Kuremas-remas teteknya
dengan tangan kananku. Bu Tari melepaskan ciumannya lalu merintih-rintih dengan kepala
terdongak kebelakang seolah memberikan lehernya untukku. Dengan bibirku langsung kuciumi
leher itu. Tapi tiba-tiba Bu Tari setengah menghentakan badanku seperti tengah bangun dari
mimpi dan shock dia berkata : “Ya Tuhan, Wiiinnn …apa yang kita lakukan?”
Bu Tari menjauhiku dan menempelkan kepalanya kedinding menahan hati. Akupun bisu. Hening.
lama sekali. Aku kian gelisah. Aku ingin keadaan itu berakhir. Aku dekati bu Tari, memeluknya
lagi. Kata-kata cinta meluncur begitu saja dari mulutku. Semua itu membuat bu Tari bingung.
Menggeleng-gelengkan kepalanya dan berlari masuk kekamar menahan tangis.
Beberapa hari sejak kejadian itu Bu Tari tidak menyapaku Dia selalu berusaha menghindariku.
Aku bingung, aku takut dia marah. Aku takut dia menolak cintaku. Aku takut gila, mencintai ibu
kost sendiri, istri orang dan perempuan yang jauh lebih tua dariku. Ditolak pula. Bah!. Aku mulai
murung. Tapi itu hanya lebih kurang dua minggu. Hanya sampai pada suatu malam, bulan jatuh
dipelukanku saat Bu Tari lembut menyapaku dan tanpa bicara sepatah katapun menciumiku.
Bah!. Sedari dulu juga, jika dibalik ke”mature”annya sesekali kulihat kerling genitnya, adalah
bukti bahwa sebenarnya sudah lama aku tak bertepuk sebelah tangan. Tap
Mbak Suti langsung pamit tidur. Tinggallah aku diruang tengah itu, sendiri, melamun. Sekian
lama hubungan kami berjalan. Selama ini kami hanya sampai batas berpelukan, berciuman,
saling tindih diranjang dengan napas yang menderu-deru dan berujung orgasme tanpa coitus.
Entah berapa kali kontolku menekan-nekan dan menggesek-gesek dimemeknya yang basah
bercelana. Entah berapakali pejuhku membasahi celana dalamku sendiri dan celana dalam Bu
Tari. Lantas walaupun kontolku belum pernah sekalipun masuk kememeknya, kecuali hanya
menggesek-gesek dan aku orgasme, masih perjakakah aku?.
Langkah Bu Tari terdengar dan terus kupandangi sekujur tubuhnya yang semampai melenggoklenggok,
dari kepala sampai kaki ketika dia berjalan kearahku. Stagen dipinggangnya sudah tak
ada hingga perutnya sedikit terlihat. Dadaku berdebar-debar. Berkali kali kutelan ludah.
“Kamu melihat ibu, kaya ibu ini apaan sih?!”ucap Bu Tari genit mengibaskan tangan kanan
dimukaku.
“Ibu cantik sekali, makin sexy, sexy sekali berkebaya dan saya terangsang sekali” Ucapku asal
saja menunjuk kekontolku.
“Hus. Sekali, sekali. Daripada melamun sini pijitin ibu” Ucap Bu Tari duduk membelakakingiku
dan menepuk pundaknya. Aku pijit kedua pundaknya perlahan-lahan. Bu Tari kadang menggeliat
keenakan.

Kumpulan Cerita Seks Koleksi Cerita Dewasa Terbaru Terlengkap Paling Panas 2018 – Tak Kuat Menahan Godaan Ibu Tari

Makin lama pijitanku makin turun, kepunggungnya, ke tulang-tulang rusuknya, kepinggangnya.
Tak lama kutarik pundaknya dan kusandarkan punggungnya kedadaku, kutempelkan pipi
kananku kepipi kirinya. Lalu kupijit kedua pahanya, kuelus-elus dan kuremas-remas sampai
kepinggulnya. Bu Tari memejamkan matanya. Pijitan bercampur elusan kedua tanganku
merambat naik dan berhenti didadanya untuk meremas-remas buah dada yang kurasakan besar
dan kenyal itu. Mukaku kugesek-gesekan dirambut dan kondenya, pipinya, dan kukulum-kulum
telinganya. Deru napas Bu Tari mulai tak teratur kadang diselingi desahan halus. Tangan
kanannya mencoba meraih kepalaku, kadang mencengkram lembut rambutku. Telapak tangan
kirinya digosok-gosokan kepipi kiriku. Remasan tanganku ke buah dadanya makin liar, mukaku
meliuk-liuk menciumi apa saja dikepalanya. Kubuka kancimg baju kebayanya. Sembulan
sepertiga buah dada dari BHnya indah sekali. Aku makin terangsang. Kontolku yang ngaceng
sejak tadi ingin meledak rasanya. Ku tarik baju kebayanya turun kebelakang hingga pundak dan
lehernya bebas kuciumi dan jilati. Ibu Tari mengerang nikmat. Kulingkarkan kedua tanganku
memeluknya erat-erat. Bibir Bu Tari yang setengah terbuka kusambar dengan bibirku dan
kukulum habis. Ujung lidah kami beradu, kutelusuri lidahnya sampai seberapa jauh dapat
masuk, kerongga-rongga mulutnya. Begitu kami bergantian.
Aku dan Bu Tari mulai tak tahan, kurebahkan dia disofa. Kutelusuri tubuhnya, kuciumi dari muka,
dada, perut paha, dan betisnya yang masih dibalut kain jarik. Naik lagi dan kutindih Bu Tari.
Erangannya makin merangsangku. Kubuka ikat pinggangnku.
“Jangan disini sayang. Nanti kalau Suti bangun…..”Tiba-tiba ucap Bu Tari tak menyelesaikan
kalimatnya. Kami berdiri. Bu Tari melepas resleting celanaku, memasukan tangannya kecelana
dalamku dan meremas-remas kontolku yang tegang dengan geregetan.
“Heeeemmmmmm” Ucapnya lalu membimbingku masuk kekamarnya berjalan mundur dengan
memegang dan menarik kontolku. Itu membuat kami tertawa.
Pintu kamar dikuncinya cepat-cepat. Kubuka bajuku dan Bu Tari setengah menunduk membuka
celanaku lalu mencari kontolku. Begitu dapat langsung dimasukan kemulutnya, dijilati dihisaphisap,
diciumi dan kadang dikocok-kocok dengan tangannya. Yang begini belum pernah dia
lakukan. Aliran kenikmatan merambat sampai ubun-ubun kepalaku. Aku memberinya isyarat
agar melepaskan kontolku. Aku dipuncak napsu dan ingin memasukan kontolku langsung saja
kememeknya, tapi dia menolak. Badanku rasanya makin bergetar dengan tulang yang mau
berlepasan dan syaraf-syaraf ditubuhku rasanya kelojotan nikmat. Bu Tari begitu bernapsu dan
nikmat memainkan kontolku dimulutnya
Aku tak tahan dan minta rebahan diranjang. Bu Tari melepas baju kebayanya. Dengan tetap BH
masih didada dan kain jariknya yang belum terlepas, mulutnya langsung mengejar burung
pusakaku sampai dua biji telornyapun dia cium, jilat dan hisap. Aku makin bergelinjang,
melayang-layang nikmat. Hingga dipuncaknya, aku tak sempat lagi memberitahunya kalau
pejuhku mau keluar. Hingga akkhh…crott…crooot. Crroott. Pejuhku muncrat didalam mulut Bu
Tari. Tapi Bu Tari justru malah bernapsu, menelannya dan terus menghisap-hisap kontolku
sampai bersih, kasat dan ngilu rasanya. Aku terkejut. Bangun terduduk.
“Ibu telan?….Apa ibu tidak jijik?”Tanyaku bodoh.
Ibu Tari menggeleng, justru mukanya cerah, kepuasan terpancar diwajahnya. Aneh pikirku.
“Orang bilang, meminum air mani perjaka akan membuat perempuan awet muda. Lepas betul
atau tidak yang terang ibu sudah mencobanya barusan sayang”Ucap Bu Tari lalu menciumiku
dari muka sampai dadaku, sementara tangan kanannya terus meremas-remas kontolku.
“Ayo lagi sayang, ibu pingin kamu puas” Ucap Bu Tari mesra. Kontolku yang tadi terkulai karena
sudah keluar pejuh dan shock mulai menegang lagi akhirnya. Bu Tari kembali mengulum dan
menghisap-isap kontolku. “Kalau ibu masih pingin, ambil semua pejuh saya “Ucapku Ibu Tari
tersenyum. Kubuka BHnya dan kutarik lilitan kain jariknya. Bu Tari berdiri untuk memudahkan
melepas kain jariknya. Tubuhnya yang telanjang bulat langsung kuterkam, kurebahkan dan
kutindih. Dua teteknya yang besar itu kuhisap-hisap putingnya bergantian. Tangan kananku
menggosok-gosok memeknya. Kuciumi, kujilati dan kuhisap-hisap semua bagian yang menurut
instingku bisa membangkitkan gairahnya. Bibir, lidah, telinga, kuping leher, tetek, perut, pusar,
paha, memek, betis sampai ke jari dan telapak kakinya. Tubuh Bu Tari bergelinjangan tak karuan
dadanya naik-turun kelojotan. Tangan kirinya meremas-meremas teteknya dan tangan kanannya
menggosok- gosok memeknya sendiri. Konde rambut Bu Tari hampir terlepas. Mulutku naik lagi
keatas menyusuri betis dan paha hingga akhirnya berhenti dimemeknya. Dengan kedua
tanganku kusibak pelan jembutnya. Kulihat belahan memeknya yang memerah berkilat dan
bagian dalamnya ada yang berdenyut-denyut. Kuciumi dengan lembut, bahu dimemeknya
membuat sensasi yang aneh. Tak pernah ada bahu seperti ini yang pernah kukenal rasanya.
Dengan hidung kugesek-gesek belahan memek Bu Tari sambil menikmati aroma bahunya.
Erangan dan gelinjangan tubuhnya terlihat seperti pemandangan yang indah menggairahkan.
“AaaaKhhhk….Eeeekhhhh…enak sekali sayang. Teruuuuuusss sayang” Rintih Bu Tari.
Kujulurkan lidahku, kujilat sedikit memeknya, ada rasa asin. Lalu dari bawah sampai atas
kujulurkan lidahku menjilati belahan memeknya. Begitu seterusnya naik turun sambil melihat
reaksi Bu Tari. “Akkhhh…….Akkkhhhhh…….Akkkhhhhhhhh…Enggh hh” Bu Tari terus merintih
nikmat, tangannya mencari tangan kananku, meremas-remas jariku lalu membawanya
keteteknya. Aku tahu dia ingin yang meremas teteknya adalah tanganku. Begitu kulakukan terus,
tangan kananku’ meremas teteknya, mulutku menjilati dan menghisap-hisap memeknya, tangan
kiriku mengelus-elus pinggang, paha sampai kebetisnya yang putih mulus dan halus itu.
“Akkkhhhh…sudah sayang…sudah….ayo sekarang sayang ibu sudah tak tahan
akkkhhhh….masukan sayang, masukan” Desah bu Tari mengerang meraih kepalaku agar
menghentikan jilatan dimemeknya dan minta dikentot. Tanpa harus mengulangi lagi
permintaannya langsung saja aku merangkak naik, menindih tubuh Bu Tari. Bu Tari melebarkan
pahanya. Kontolku menuju memeknya. Beberapa kali kucoba, memasukan, beberapa kali pula
gagal. Aku tak tahu mana yang pas lobangnya, mana yang hanya belahan memek. Tapi tangan
Bu Tari segera membantu, memegang kontolku, membimbing kedepan lobang memeknya lalu
berkata “Ya itu sayang…disitu…tekan sayang tekan…disitu… aaakkkhhhh….ayo sayang…ibu
tak tahan…ooo..akkkhhhh” Ibu Tari merintih ketika kontolku yang kutekan masuk seluruhnya
kelobang memeknya. Sejenak tubuhku kaku, aku diam saja, aku nervous. Batang kontolku
rasanya terjepit oleh dinding memek Bu Tari yang seperti berdenyut-denyut dan menghisaphisap.
Nikmat luar biasa. Ini yang pertama.
Bu Tari menggoyang-goyangkan pinggulnya, setengah berputar putar dan kadang naik turun.
Kontolku yang tertancap dimemeknya yang setengah becek dibuat seperti mainan yang
membuatnya nikmat tak karuan.
“Ayo sayang…ayo…bareng-bareng sayang…ibu mau keluar sayang…ayo..ayo…..”Rintih Bu tari
dengan mata setengah terpejam dan mulutnya yang terus terbuka mendesah-desah dan kian
kuat menggoyang goyangkan pinggulnya. Akupun terus mengimbanginya sampai tiba-tiba Bu
Tari seperti terdiam dan kedua tangannya merangkul leherku kuat-kuat dan dari mulutnya keluar
desahan panjang : “Aakkkhhhhh……Oukhhhhhhhh….Engkhhhhhh…. ..” Bersamaan dengan
rintih kepuasannya, denyutan dan hisapan memek Bu Tari makin kuat dan nikmat rasanya.
Akupun sudah tak tahan lagi dan ingin agar pejuhku segera keluar. Karenanya kunaik turunkan
kontolku, kuputar-putar dan kunaik-turunkan terus hingga akhirnya crooottt…crooootttt..
crroooot…. “Akhhh…………” Bersamaan dengan muncratnya pejuhku dimemeknya, kembali Bu
Tari mendesah nikmat. Napasku memburu, aku lemas sekali rasanya. Semetara Bu Tari tetap
menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan pelan dan tangannya mengelus-elus rambutku.
Beberapa saat kubiarkan tubuhku menindih tubuh bugil Bu Tari tanpa tangan atau dengkulku
menahan beban badanku. Kontolku tetap menancap dimemeknya. Ketika ingin kucabut Bu Tari
melarangnya. “Jangan sayang, jangan dicabut dulu, biarkan ibu memiliki dan menikmatinya,
peluk…peluk…tetap tindihlah ibu sayang. Ibu puas, kamu puas sayang hemmmm?….enak
sayang?….” Ucap Bu Tari sambil terus menciumiku.
Malam itu kami habiskan tidur kelonan diranjang yang biasa Ibu Tari tidur dan ngentot dengan
suaminya. Tapi sejak malam itu dan disetiap kesempatan yang ada kukentot pula Bu Tari
diranjang yang sama. Aku tak perlu lagi hanya beronani dengan membayangkan ngentot
dengannya, begitupula Bu Tari tak perlu lagi hanya sekedar membayangkan ngentot denganku
jika ia melayani suaminya. Kami baru ngentot dihotel jika salah satu dari kami sudah tak tahan
lagi sementara kesempatan dirumah tak ada. Atau ketika obsesiku kumat untuk ngentot dengan
Bu Tari dalam pakaian kebaya, kain jarik dan berkonde. Ini terkadang aneh, berlama-lama Bu
Tari ke Salon rias, begitu selesai langsung ke Hotel dan kuobok-obok sampai berantakan. (Aneh
ya?!.).
Sering pula jika keadaan memungkinkan, Bu Tari suka menyelinap kekamarku untuk “fast sex”.
Sex cepat dengan tetap masih berpakaian. Tandanya Bu Tari masuk kekamarku sudah tanpa
celana dalam dan dipuncak napsu. Ini sering terjadi jika Bu Tari sedang butuh tapi Pak Bagong
tak acuh terus tidur.
Tentang memek Bu Tari, mungkin itu yang disebut memek empot ayam. Memek yang tak pernah
kutemui pada semua perempuan (adik-adik, mbak-mbak, tante-tante dan ibu-ibu rumah tangga
yang muda maupun tua) yang pernah kutiduri, sampai hari ini sekalipun diumurku yang 37
tahun. (Baca Juga : Koleksi Kisah Dewasa Terbaru – Gairah Nafsu Ibu Muda)

Oke segini dulu, jika ada yang ingin pembaca sampaikan misalnya berupa caci maki karena
saya suka ngentotin ibu-ibu rumah tangga yang lebih tua dari saya, Tapi ingat, dari semulapun
saya bukan seorang yang cari uang dengan sex, bukan gigolo, tak pernah memperkosa dan
selalu menjaga kerahasiaan patner. Semua atas dasar suka sama suka semata. Just sex. Kumpulan Cerita Sex Koleksi Cerita Dewasa Terbaru 18+ xxx Brondong vs Tante Girang – Tak Kuat Menahan Godaan Ibu Tari www.kisahbiru.men

Baca Juga :

[Download Koleksi Anime XXX Terbaru]
Download