Kumpulan Cerita Sex Koleksi Kisah Dewasa Terbaru - Selingkuh Dengan Om Ku

Cerita Sex Terbaru – Selingkuh Dengan Om Ku

Kumpulan Cerita Sex Koleksi Kisah Dewasa Terbaru – Selingkuh Dengan Om Ku – Yoo, ketemu lagi dengan Kisah Biru, gimana kabar kalian para PasCol? Untuk menemani kesendirian kalian dikamar Kisah Biru kembali ingin menghadirkan cerita seks terbarunya kali ini yang berjudul ” Selingkuh Dengan Om Ku ” yang bercerita tentang skandal perselingkuhan antara seorang keponakan dengan om nya sendiri. Seperti apa panasnya kisah dewasa kali ini? mending langsung simak aja ceritanya yukk..

Aku baru menikah, karena suamiku belum punya rumah akhirnya kami numpang di rumah om
nya suamiku yang duda tanpa anak dan tinggal sendiri. Sebagai pengantin baru, tentunya aku
dan suamiku lebih sering menghabiskan waktu di kamar. Sayangnya suamiku tidak perkasa kalo
di ranjang. Sering ditengah permainan, saat aku sedang nikmat2nya suamiku keok duluan.
Suatu sore, sepulang dari kantor, om lupa membawa kunci rumah.
Dia rupanya mengetok pintu cukup lama tetapi aku tidak mendengarnya karena aku sedang di
kamar mandi. Ketika keluar dari kamar mandi, baru samar2 aku mendengar ketukan pintu.
Siapa, pikirku sambil segera mengenakan kimono dari bahan handuk yang pendek, sekitar 15
cm diatas lutut. Aku membukakan pintu. Om ternganga melihat kondisi aku yang baru selesai
mandi. Tinggi ku sekitar 167 cm. Rambutku tergerai sebahu. Wajah ku cantik dengan bentuk
mata, alis, hidung, dan bibir yang indah, itu kata suamiku lo. Karena kimonoku pendek, maka
paha dan betis ku tampak dengan jelas.. Kulitku kelihatan licin, dihiasi oleh rambut-rambut halus
yang pendek. Pinggulku besar melebar. Pinggangku kelihatan ramping. Sementara kimono yang
menutupi dadaku belum sempat kuikat secara sempurna, menyebabkan belahan toketku yang
montok itu menyembul di belahan baju, pentilku membayang di kimonoku. Aku belum sempat
mengenakan bra. Leherku jenjang dengan beberapa helai rambut terjuntai. Sementara bau
harum sabun mandi terpancar dari tubuhku. Dari samping toketku begitu menonjol dari balik
kimonoku. Om berjalan mengikutiku menuju ruang makan. Pasti dia memperhatikan gerak
tubuhku dari belakang. Pinggulku yang besar itu meliuk ke kiri-kanan mengimbangi langkahlangkah
kakiku.

“Sori Sin, om lupa bawa kunci. Kamu terganggu mandinya ya”, katanya. “Udah selesai kok om”,
jawabku. Dia duduk di meja makan. Aku mengambilkan teh untuknya dan kemudian masuk ke
kamar. Tak lama kemudian aku keluar hanya mengenakan daster tipis berbahan licin, tonjolan
toketku membusung. Aku tidak mengenakan bra, sehingga kedua pentilku tampak jelas sekali
tercetak di dasterku. Aku mengambil toples berisi kue dari lemari makan. Pada posisi
membelakanginya, pasti dia menatap tubuhku dari belakang. Kita ngobrol ngalor ngidul soal
macem2. Dia menatapku dari dekat tanpa rasa risih. Aku tidak menyadari bahwa belahan daster
di dadaku mempertontonkan toketku yang montok kala agak merunduk. Akhirnya pembicaraan
menyerempet soal sex. “Sin, kamu gak puas ya sama suami kamu”, kataku to the point. Aku
tertunduk malu, mukaku semu kemerahan. “Kok om tau sih”, jawabku lirih. “Om kan pernah
denger kamu melenguh awalnya, cuma akhirnya mengeluh. Suami kamu cepet ngecretnya ya”,
katanya lagi. “Iya om, cepet banget keluarnya. Sintia baru mulai ngerasa enak, dia udah keluar.
Kesel deh jadinya, kaya Sintia cuma jadi pemuas napsunya aja”, aku mulai curhat. Dia hanya
mendengarkan curhatanku saja. “Om, mandi dulu deh, udah waktunya makan. Sintia nyiapin
makan dulu ya”, kataku mengakhiri pembicaraan seru. “Kirain Sintia nawarin mau mandiin”,
godanya. “Ih si om, genit”, jawabku tersipu. “Kalo Sintia mau, om gak keberatan lo”, jawabnya
lagi.
Aku tidak menjawab hanya berlalu ke dapur, menyiapkan makan. Sementara itu dia masuk
kamarnya dan mandi. Selesai mandi, dia hanya memakai celana pendek dan kaos. Kelihatannya
dia tidak mengenakan CD karena kontolnya yang ternyata ngaceng berat kelihatan jelas tercetak
di celana pendeknya. Aku diam saja melihat ngacengnya kontolnya dari luar celana pendeknya.
Rupanya om terangsang ketika ngobrol seru sebelum dia mandi itu. Ketika makan malem, kita
ngobrol soal yang lain, aku berusaha tidak mengarahkan pembicaraan kearah yang tadi. Tetapi
om masih dibawah pengaruh napsu birahinya. Dia menatapku dengan pandangan yang seakan2
mau menelanjangiku.
Selesai makan, aku membereskan piring dan gelas. Sekembalinya dari dapur, aku terpeleset
sehingga terjatuh. Rupanya ada air yang tumpah ketika aku membawa peralatan makan ke
dapur. Betis kanan ku membentur rak kayu. “Aduh”, aku mengerang kesakitan. Dia segera
menolongnya. Punggung dan pinggulku diraihnya. Dia membopong ku kekamarku. Dia
meletakkan aku di ranjang. Belahan dasterku terbuka lebih lebar sehingga dia dapat dengan
leluasa melihat kemontokan toketku. Aku berusaha meraih betisku yang terbentur rak tadi.
Kulihat bekas benturan tadi membuat sedikit memar di betis ku. Dia pun berusaha membantuku.

Diraihnya betisku seraya diraba dan diurut bagian betis yang memar tersebut. “Pelan om, sakit”,
erangku lagi. Sambil terus memijit betisku, dia memandang wajahku. Mataku akhirnya terpejam.
Nafasku jadi teratur. Aku sudah tertidur. Mungkin karena lelah seharian membereskan rumah.
Mendadak aku terbangun karena om membuka dasterku. “Om, Sintia mau diapain”, kataku lirih.
Dia terkejut dan segera menghentikan aksinya. Dia memandangi tubuh mulusku tanpa daster
yang menghalanginya. Tubuh molekku sungguh membangkitkan birahi. toket yang besar
membusung, pinggang yang ramping, dan pinggul yang besar melebar. pentilku berdiri tegak.
Rupanya selama aku tertidur, dia menggerayangi sekujur tubuhku sehingga naspunya tak
terbendung lagi. Dia sudah bertelanjang bulat. Aku terkejut melihat kontolnya yang begitu besar
dan panjang (dibandingkan dengan kontol suamiku) dalam keadaan sangat tegang. Napsuku
bangkit juga melihat kontolnya, timbul hasratku untuk merasakan bagaimana nikmatnya kalo
kontol besar itu menggesek keluar masuk nonokku.

Baca Juga : Kumpulan Cerita Seks Terbaru – Selingkuh Dengan Istri Tetangga Yang Montok

“Sin, om mau ngasi kenikmatan sama kamu, mau enggak”, katanya perlahan sambil mencium
toket ku yang montok. Aku diam saja, mataku terpejam. Dia mengendus-endus kedua toketku
yang berbau harum sambil sesekali mengecupkan bibir dan menjilatkan lidahnya. pentil toket
kananku dilahap ke dalam mulutnya. Badanku sedikit tersentak ketika pentil itu digencet
perlahan dengan menggunakan lidah dan gigi atasnya. “Om…”, rintihku, tindakannya
membangkitkan napsuku juga. Aku menjadi sangat ingin merasakan kenikmatan dientot,
sehingga aku diam saja membiarkan dia menjelajahi tubuhku. Disedot-sedotnya pentil toketku
secara berirama. Mula-mula lemah, lama-lama agak diperkuat sedotannya. Diperbesar daerah
lahapan bibirnya. Kini pentil dan toket sekitarnya yang berwarna kecoklatan itu semua masuk ke
dalam mulutnya. Kembali disedotnya daerah tersebut dari lemah-lembut menjadi agak kuat.
Mimik wajahku tampak sedikit berubah, seolah menahan suatu kenikmatan. Kedua toketku yang
harum itu diciumi dan disedot-sedot secara berirama. Sambil terus menggumuli toketku dengan
bibir, lidah, dan wajahnya, dia terus menggesek-gesekkan kontol di kulit pahaku yang halus dan
licin. Dibenamkannya wajahnya di antara kedua belah gumpalan dada ku. Perlahan-lahan dia
bergerak ke arah bawah. Digesek-gesekkan wajah remasan-remasan tangannya di kedua toketnya, menyebabkan cairan itu menjadi teroles rata di
sepanjang belahan dadaku yang menjepit kontolku. Cairan tersebut menjadi pelumas yang
memperlancar maju-mundurnya kontolnya di dalam jepitan toketku. Dengan adanya sedikit
cairan dari kontolnya tersebut dia terlihat merasakan keenakan dan kehangatan yang luar biasa
pada gesekan-gesekan batang dan kepala kontolnya dengan toketku. “Hih… hhh… … Luar
biasa enaknya…,” dia tak kuasa menahan rasa enak yang tak terperi. Nafasku menjadi tidak
teratur. Desahan-desahan keluar dari bibirku , yang kadang diseling desahan lewat hidungku,
“Ngh… ngh… hhh… heh… eh… ngh…” Desahan-desahanku semakin membuat nafsunya makin
memuncak. Gesekan-gesekan maju-mundurnya kontolnya di jepitan toketku semakin cepat.
kontolku semakin tegang dan keras. “Enak sekali, Sin”, erangnya tak tertahankan. Dia
menggerakkan kontolnya maju-mundur di jepitan toketku dengan semakin cepat. Alis mataku
bergerak naik turun seiring dengan desah-desah perlahan bibirku akibat tekanan-tekanan,
remasan-remasan, dan kocokan-kocokan di toketku. Ada sekitar lima menit dia menikmati rasa
keenakan luar biasa di jepitan toketku itu.

Toket sebelah kanan dilepas dari telapak tangannya. Tangan kanannya lalu membimbing kontol
dan menggesek-gesekkan kepala kontol dengan gerakan memutar di kulit toketku yang halus
mulus. Sambil jari-jari tangan kirinya terus meremas toket kiriku, kontolnya digerakkan memutarmutar
menuju ke bawah. Ke arah perut. Dan di sekitar pusarku, kepala kontolnya digesekkan
memutar di kulit perutku yang putih mulus, sambil sesekali disodokkan perlahan di lobang
pusarku. Dicopotnya CD minimku. Pinggulku yang melebar itu tidak berpenutup lagi. Kulit
perutku yang semula tertutup CD tampak jelas sekali. Licin, putih, dan amat mulus. Di bawah
perutku, jembutku yang hitam lebat menutupi daerah sekitar nonokku. Kedua paha mulusku
direnggangkannya lebih lebar. Kini hutan lebat di bawah perutku terkuak, mempertontonkan
nonokku. Dia pun mengambil posisi agar kontolnya dapat mencapai nonokku dengan mudahnya.
Dengan tangan kanan memegang kontol, kepalanya digesek-gesekkannya ke jembutku. Kepala
kontolnya bergerak menyusuri jembut menuju ke nonokku. Digesek-gesekkan kepala kontol ke
sekeliling bibir nonokku. Terasa geli dan nikmat. Kepala kontol digesekkan agak ke arah
nonokku. Dan menusuk sedikit ke dalam. Lama-lama dinding mulut nonokku menjadi basah.
Digetarkan perlahan-lahan kontolnya sambil terus memasuki nonokku.

Kini seluruh kepala kontolnya yang berhelm pink tebenam dalam jepitan mulut nonokku. Kembali
dari mulutku keluar desisan kecil karena nikmat tak terperi. Kontolnya semakin tegang.
Sementara dinding mulut nonokku terasa semakin basah. Perlahan-lahan kontolnya ditusukkan
lebih ke dalam. Kini tinggal separuh kontol yang tersisa di luar. Secara perlahan dimasukkan
kontolnya ke dalam nonokku. Terbenam sudah seluruh kontolnya di dalam nonokku. Sekujur
kontol sekarang dijepit oleh nonokku . Secara perlahan-lahan digerakkan keluar-masuk
kontolnya ke dalam nonokku. Sewaktu keluar, yang tersisa di dalam nonokku hanya kepalanya
saja. Sewaktu masuk seluruh kontol terbenam di dalam nonokku sampai batas pangkalnya. Dia
terus memasuk-keluarkan kontolnya ke lobang nonokku. Alis mataku terangkat naik setiap kali
kontolnya menusuk masuk nonokku secara perlahan. Bibir segarku yang sensual sedikit terbuka,
sedang gigiku terkatup rapat. Dari mulut sexy ku keluar desis kenikmatan, “Sssh…sssh… hhh…
hhh… ssh… sssh…” Dia terus mengocok perlahan-lahan nonokku. Enam menit sudah hal itu
berlangsung. Kembali dikocoknya secara perlahan nonokku sampai selama dua menit. Kembali
ditariknya kontolnya dari nonokku. Namun tidak seluruhnya, kepala kontol masih dibiarkannya
tertanam dalam nonokku. Sementara kontol dikocoknya dengan jari-jari tangan kanannya
dengan cepat
Rasa enak itu agaknya kurasakan pula. Aku mendesah-desah akibat sentuhan-sentuhan getar
kepala kontolnya pada dinding mulut nonokku, “Sssh… sssh… zzz…ah… ah… hhh…” Tiga
menit kemudian dimasukkannya lagi seluruh kontolnya ke dalam nonokku. Dan dikocoknya
perlahan. Sampai kira-kira empat menit. Lama-lama dia mempercepat gerakan keluar-masuk
kontolnya pada nonokku. Sambil tertahan-tahan, dia mendesis-desis, “Sin… nonokmu luar
biasa… nikmatnya…”
Gerakan keluar-masuk secara cepat itu berlangsung sampai sekitar empat menit. Tiba-tiba
dicopotnya kontol dari nonokku. Segera dia berdiri dengan lutut mengangkangi tubuhku agar
kontolnya mudah mencapai toketku. Kembali diraihnya kedua belah toket montok ku untuk
menjepit kontolnya yang berdiri dengan amat gagahnya. Agar kontolnya dapat terjepit dengan
enaknya, dia agak merundukkan badannya. Kontol dikocoknya maju-mundur di dalam jepitan
toketku. Cairan nonokku yang membasahi kontolnya kini merupakan pelumas pada gesekangesekan
kontolnya dan kulit toketku. “Oh…hangatnya… Sssh… nikmatnya…Tubuhmu luarrr
biasa…”, dia merintih-rintih keenakan. Akus juga mendesis-desis keenakan, “Sssh.. sssh…
sssh…” Gigiku tertutup rapat. Alis mataku bergerak ke atas ke bawah. Dia mempercepat majumundurnya
kontolnya. Dia memperkuat tekanan pada toketku agar kontolnya terjepit lebih kuat.
Karena basah oleh cairan nonokku, kepala kontolnya tampak amat mengkilat di saat melongok
dari jepitan toketku. Leher kontol yang berwarna coklat tua dan helm kontol yang berwarna pink
itu menari-nari di jepitan toketku. Semakin dipercepat kocokan kontolnya pada toketku. Tiga
menit sudah kocokan hebat kontolnya di toket montok ku berlangsung. Dia makin cepat
mengocokkan kontol di kempitan toket indah ku. Akhirnya dia tak kuasa lagi membendung
jebolnya tanggul pertahanannya. “Sin..!” pekiknya dengan tidak tertahankan. Matanya
membeliak-beliak. Jebollah pertahanannya. Kontolnya menyemburkan peju. Crot! Crot! Crot!
Crot!

Pejunya menyemprot dengan derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya, sampai
menghantam rahangku. Peju tersebut berwarna putih dan kelihatan sangat kental. Dari rahang
peju mengalir turun ke arah leherku. Peju yang tersisa di dalam kontolnya pun menyusul keluar
dalam tiga semprotan. Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya lemah. Semprotan awal hanya
sampai pangkal leherku, sedang yang terakhir hanya jatuh di atas
belahan toketku. Dia menikmati akhir-akhir kenikmatan. “Luar biasa…Sin, nikmat sekali
tubuhmu…,” dia bergumam. “Kok gak dikeluarin di dalem aja om”, kataku lirih. “Gak apa kalo om
ngecret didalem Sin”, jawabnya. “Gak apa om, Sintia pengen ngerasain esemprot peju anget.
Tapi Sintia ngerasa nikmat sekali om, belum pernah Sintia ngerasain kenikmatan seperti ini”,
kataku lagi. “Ini baru ronde pertama Sin, mau lagi kan ronde kedua”, katanya. “Mau om, tapi
ngecretnya didalem ya”, jawabku. “Kok tadi kamu diem aja Sin”, katanya lagi. “Bingung om, tapi
nikmat”, jawabku sambil tersenyum. “Engh…” aku menggeliatkan badanku. Dia segera
mengelap kontol dengan tissue yang ada di atas meja, dan memakai celana pendek. Beberapa
lembar tissue diambil untuk mengelap peju yang berleleran di rahang, leher, dan toketku. Ada
yang tidak dapat dilap, yakni cairan peju yang sudah terlajur jatuh di rambut ku. “Mo kemana
om”, tanyaku. “Mo ambil minum dulu”, jawabnya. “Kok celananya dipake, katanya mau ronde
kedua”, kataku. Aku sudah pengen dia menggelutiku sekali lagi.
Dia kembali membawa gelas berisi air putih, diberikannya kepada ku yang langsung kutenggak
sampe habis. Dia keluar lagi untuk mengisi gelas dengan air dan kembali lagi ke kekamar. Masih
tidak puas dia memandangi toket indahku yang terhampar di depan matanya. Dia memandang
ke arah pinggangku yang ramping dan pinggulku yang melebar indah. Terus tatapannya jatuh ke
nonokku yang dikelilingi oleh jembut hitam jang lebat. Aku ingin mengulangi permainan tadi,
digeluti, didekap kuat. Mengocok nonokku dengan kontolnya dengan irama yang menghentakhentak
kuat. Dan dia dapat menyemprotkan pejunya di dalam nonokku sambil merengkuh kuatkuat
tubuhnya saat aku nyampe. Nafsuku terbakar.

Kumpulan Cerita Sex Kisah Dewasa Terbaru Terlengkap Paling Hot Panas 2018 – Selingkuh Dengan Om Ku

“Sin…,” desahnya penuh nafsu. Bibirnya pun menggeluti bibirku. Bibir sensualku yang
menantang itu dilumat-lumat dengan ganasnya. Sementara aku pun tidak mau kalah. Bibirku
pun menyerang bibirnya dengan dahsyatnya, seakan tidak mau kedahuluan oleh lumatan
bibirnya. Kedua tangannyapun menyusup diantara lenganku. Tubuhku sekarang berada dalam
dekapannya. Dia mempererat dekapannya, sementara aku pun mempererat pelukanku pada
dirinya. Kehangatan tubuhnya terasa merembes ke badanku, toketku yang membusung terasa
semakin menekan dadanya. Aku meremas-remas kulit punggungnya. Aku mencopot celananya
dan merangkul punggungnya lagi. Dia kembali mendekap erat tubuhku sambil melumat kembali
bibirku. Dia terus mendekap tubuhku sambil saling melumat bibir. Sementara tangan kami saling
meremas-remas kulit punggung. Kehangatan menyertai tubuh bagian depan kami yang saling
menempel. Kini kurasakan toketku yang montok menekan ke dadanya. Dan ketika saling sedikit
bergeseran, pentilku seolah-olah menggelitiki dadanya. Kontolnya terasa hangat dan mengeras.
Tangan kirinya pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping dan pinggul besar ku,
menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutnya.

Kontolnya tergencet diantara perut
bawahku dan perut bawahnya. Sementara bibirnya bergerak ke arah leherku, diciumi, dihisaphisap
dengan hidungnya, dan dijilati dengan lidahnya. “Ah… geli… geli…,” desahku sambil
menengadahkan kepala, agar seluruh leher sampai daguku terbuka dengan luasnya. Aku pun
membusungkan dadaku dan melenturkan pinggangku ke depan. Dengan posisi begitu,
walaupun wajahnya dalam keadaan menggeluti leherku, tubuh kami dari dada hingga bawah
perut tetap dapat menyatu dengan rapatnya. Tangan kanannya lalu bergerak ke dadaku yang
montok, dan meremas-remas toketku dengan perasaan gemas.
Setelah puas menggeluti leherku, wajahnya turun ke arah belahan dadaku. Dia berdiri dengan
agak merunduk. Tangan kirinya pun menyusul tangan kanan, yakni bergerak memegangi toket.
Digeluti belahan toketku, sementara kedua tangannya meremas-remas kedua belah toketku
sambil menekan-nekankannya ke arah wajahnya. Digesek-gesekkan memutar wajahnya di
belahan toketku. Bibirnya bergerak ke atas bukit toket sebelah kiri.

Diciuminya bukit toketku, dan dimasukkan pentil toketku ke dalam mulutnya. Kini dia menyedotsedot
pentil toket kiriku. Dimainkan pentilku di dalam mulutnya dengan lidah. Sedotan kadang
diperbesar ke puncak bukit toket di sekitar pentil yang berwarna coklat. “Ah… ah… om…geli…,”
aku mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. Dia memperkuat sedotannya.
Sementara tangannya meremas kuat toket sebelah kanan. Kadang remasan diperkuat dan
diperkecil menuju puncak, dan diakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jarinya
pada pentilku. “Om… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu…ngilu…” Dia semakin gemas.
Toketku dimainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit toket kadang
disedot sebesar-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang disedot hanya
pentilku dan dicepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang diremas dengan daerah
tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya dipijit-pijit dan
dipelintir-pelintir kecil pentil yang mencuat gagah di puncaknya. “Ah…om… terus… hzzz…
ngilu… ngilu…” aku mendesis-desis keenakan. Mataku kadang terbeliak-beliak. Geliatan
tubuhku ke kanan-kiri semakin sering frekuensinya.

Baca Juga : Kumpulan Cerita Dewasa Terbaru – Tak Kuat Menahan Godaan Ibu Tari

Sampai akhirnya aku tidak kuat melayani serangan-serangan awalnya. Jari-jari tangan kananku
yang mulus dan lembut menangkap kontolnya yang sudah berdiri dengan gagahnya. “Om..
kontolnya besar ya”, ucapku. Sambil membiarkan mulut, wajah, dan tangannya terus memainkan
dan menggeluti kedua belah toketku, jari-jari lentik tangan kananku meremas-remas perlahan
kontolnya secara berirama. Dia merengkuh tubuhku dengan gemasnya. Dikecupnya kembali
daerah antara telinga dan leherku. Kadang daun telinga sebelah bawahnya dikulum dalam
mulutnya dan dimainkan dengan lidahnya. Kadang ciumannya berpindah ke punggung leherku
yang jenjang. Dijilati pangkal helaian rambutku yang terjatuh di kulit leherku. Sementara
tangannya mendekap dadaku dengan eratnya. Telapak dan jari-jari tangannya meremas-remas
kedua belah toketku. Remasannya kadang sangat kuat, kadang melemah. Sambil telunjuk dan
ibu jari tangan kanannya menggencet dan memelintir perlahan pentil toket kiriku, sementara
tangan kirinya meremas kuat bukit toket kananku dan bibirnya menyedot kulit mulus pangkal
leherku yang bebau harum, kontolnya digesek-gesekkan dan ditekan-tekankan ke perutku. Aku
pun menggelinjang ke kiri-kanan. “Ah… om… ngilu… terus om… terus… ah… geli… geli…
terus… hhh… enak… enaknya… enak…,” aku merintih-rintih sambil terus berusaha menggeliat
ke kiri-kanan dengan berirama sejalan dengan permainan tangannya di toketku. Akibatnya
pinggulku menggial ke kanan-kiri. “Sin.. enak sekali Sin… sssh… luar biasa… enak sekali…,”
diapun mendesis-desis keenakan. “Om keenakan ya? kontol om terasa besar dan keras sekali
menekan perut Sintia. Wow… kontol om terasa hangat di kulit perut Sintia. Tangan om nakal
sekali … ngilu,…,” rintihku. “Jangan mainkan hanya pentilnya saja… geli… remas seluruhnya
saja…” aku semakin menggelinjang-gelinjang dalam dekapan eratnya. Aku sudah makin liar saja
desahannya, aku sangat menikmati gelutannya, lupa bahwa dia ini om suamiku. “Om..
remasannya kuat sekali… Tangan om nakal sekali..Sssh… sssh… ngilu… ngilu…Ak… kontol om
… besar sekali… kuat sekali…”

Aku menarik wajahnya mendekat ke wajahku. Bibirku melumat bibirnya dengan ganasnya. Dia
pun tidak mau kalah. Dilumatnya bibirku dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara
tangannya mendekap tubuhku dengan kuatnya. Kulit punggungku yang teraih oleh telapak
tangannya diremas-remas dengan gemasnya. Kemudian dia menindihi tubuhku. Kontolnya
terjepit di antara pangkal pahaku dan perutnya bagian bawah. Akhirnya dia tidak sabar lagi.
Bibirnya kini berpindah menciumi dagu dan leherku, sementara tangannya membimbing
kontolnya untuk mencari nonokku. Diputar-putarkan dulu kepala kontolnya di kelebatan jembut
disekitar bibir nonokku. Aku meraih kontolnya yang sudah amat tegang. Pahaku yang mulus itu
terbuka agak lebar. “Om kontolnya besar dan keras sekali” kataku sambil mengarahkan kepala
kontolnya ke nonokku. Kepala kontolnya menyentuh bibir nonokku yang sudah basah. Dengan
perlahan-lahan dan sambil digetarkan, kontol ditekankan masuk ke kunonok. Kini seluruh kepala
kontolnya pun terbenam di dalam nonokku. Dia menghentikan gerak masuk kontolnya.

“Om… teruskan masuk… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ saja…,” aku protes atas
tindakannya. Namun dia tidak perduli. Dibiarkan kontolnya hanya masuk ke nonokku hanya
sebatas kepalanya saja, namun kontolnya digetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir
dan hidungnya dengan ganasnya menggeluti leherku yang jenjang, lengan tanganku yang
harum dan mulus, dan ketiakku yang bersih dari bulu. Aku menggelinjang-gelinjang dengan tidak
karuan. “Sssh… sssh…enak… enak… geli… geli, om. Geli… Terus masuk, om..” Bibirnya
mengulum kulit lengan tanganku dengan kuat-kuat. Sementara tenaga dikonsentrasikan pada
pinggulnya. Dan… satu… dua… tiga! kontolnya ditusukkan sedalam-dalamnya ke dalam
nonokku dengan sangat cepat dan kuat. Plak! Pangkal pahanya beradu dengan pangkal pahaku
yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kontolnya bagaikan
diplirid oleh bibir nonokku yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt!
“Auwww!” pekikku. Dia diam sesaat, membiarkan kontolnya tertanam seluruhnya di dalam
nonokku tanpa bergerak sedikit pun. “Sakit om… ” kataku sambil meremas punggungnya
dengan keras. Dia pun mulai menggerakkan kontolnya keluar-masuk nonokku. Seluruh bagian
kontolnya yang masuk nonokku dipijit-pijit dinding lobang nonokku dengan agak kuatnya.
“Bagaimana Sin, sakit?” tanyaku. “Sekarang sudah enggak om…ssh… enak sekali… enak
sekali… kontol om besar dan panjang sekali… sampai-sampai menyumpal penuh seluruh
penjuru nonok Sintia..,” jawabku. Dia terus memompa nonokku dengan kontolnya perlahanlahan.
Toketku yang menempel di dadanya ikut terpilin-pilin oleh dadanya akibat gerakan
memompa tadi. Kedua pentilku yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadanya.
Kontolnya diiremas-remas dengan berirama oleh otot-otot nonokku sejalan dengan genjotannya
tersebut. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kontolnya menyentuh suatu daging
hangat di dalam nonokku. Sentuhan tersebut serasa geli-geli nikmat.

Dia mengambil kedua kakiku dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontolnya tidak
tercabut dari nonokku, dia mengambil posisi agak jongkok. Betis kananku ditumpangkan di atas
bahunya, sementara betis kiriku didekatkan ke wajahnya. Sambil terus mengocok nonokku
perlahan dengan kontolnya, betis kiriku yang amat indah itu diciumi dan dikecupi dengan
gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang diciumi dan digeluti,
sementara betis kiriku ditumpangkan ke atas bahunya. Begitu hal tersebut dilakukan beberapa
kali secara bergantian, sambil mempertahankan gerakan kontolnya maju-mundur perlahan di
nonok ku. Setelah puas dengan cara tersebut, dia meletakkan kedua betisku di bahunya,
sementara kedua telapak tangannya meraup kedua belah toketku. Masih dengan kocokan kontol
perlahan di nonokku, tangannya meremas-remas toket montok ku. Kedua gumpalan daging
kenyal itu diremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua pentilku digencet dan dipelintirpelintir
secara perlahan. Pentilku semakin mengeras, dan bukit toketku semakin terasa kenyal di
telapak tangannya. Aku pun merintih-rintih keenakan. Mataku merem-melek, dan alisku
mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah. “Ah… om, geli… geli…
… Ngilu om, ngilu… Sssh… sssh… terus om, terus…. kontol om membuat nonok Sintia merasa
enak sekali… Nanti jangan dingecretinkan di luar nonok, ya om. Ngecret di dalam saja… ” Dia
mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontolnya di nonokku. “Ah-ah-ah… bener, om.
Bener… yang cepat…Terus om, terus… ” Dia bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihanku.
Tenaganya menjadi berlipat ganda. Ditingkatkan kecepatan keluar-masuk kontolnya di nonokku.
Terus dan terus. Seluruh bagian kontolnya diremas-remas dengan cepatnya oleh nonokku. Aku
menjadi merem-melek. Begitu juga dirinya, dia pun merem-melek dan mendesis-desis karena
merasa keenakan yang luar biasa.

“Sssh… sssh… Sin… enak sekali… enak sekali nonokmu… enak sekali nonokmu…” “Ya om,
Sintia juga merasa enak sekali… terusss…terus om, terusss…” Dia meningkatkan lagi
kecepatan keluar-masuk kontolnya pada nonokku. “Om… sssh… sssh… Terus… terus… Sintia
hampir nyampe…sedikit lagi… sama-sama ya om…,” aku jadi mengoceh tanpa kendali. Dia
mengayuh terus. Sementara itu nonokku berdenyut dengan hebatnya. “Om… Ah-ah-ah-ah-ah…
Mau keluar om… mau keluar..ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…” Tiba-tiba kontolnya dijepit
oleh dinding nonok ku dengan sangat kuatnya. Di dalam nonokku, kontolnya disemprot oleh
cairan yang keluar dari nonokku dengan cukup derasnya. Dan aku meremas lengan tangannya
dengan sangat kuatnya. Aku pun berteriak tanpa kendali: “…keluarrr…!” Mataku membeliakbeliak.
Sekejap tubuh kurasakan mengejang.
Dia pun menghentikan genjotannya. Kontolnya yang tegang luar biasa dibiarkan tertanam dalam
nonokku. Aku memejam beberapa saat dalam menikmati puncak. Setelah sekitar satu menit
berlangsung, remasan tanganku pada lengannya perlahan-lahan mengendur. Kelopak mataku
pun membuka, memandangi wajahnya. Sementara jepitan dinding nonokku pada kontolnya
berangsur-angsur melemah, walaupun kontolnya masih tegang dan keras. Kedua kakiku lalu
diletakkan kembali di atas ranjang dengan posisi agak membuka. Dia kembali menindih tubuh
telanjangku dengan mempertahankan agar kontolnya yang tertanam di dalam nonokku tidak
tercabut.

“Om… luar biasa… rasanya seperti ke langit ke tujuh,” kataku dengan mimik wajah penuh
kepuasan. Kontolnya masih tegang di dalam nonokku. Kontolnya masih besar dan keras. Dia
kembali mendekap tubuhku. Kontolnya mulai bergerak keluar-masuk lagi di nonokku, namun
masih dengan gerakan perlahan. Dinding nonokku secara berangsur-angsur terasa mulai
meremas-remas kontolnya. Namun sekarang gerakan kontolnya lebih lancar dibandingkan
dengan tadi. Pasti karena adanya cairan yang disemprotkan oleh nonokku beberapa saat yang
lalu. “Ahhh…om… langsung mulai lagi… Sekarang giliran om.. semprotkan peju om di nonok
Sintia.. Sssh…,” aku mulai mendesis-desis lagi. Bibirnya mulai memagut bibirku dan melumatlumatnya
dengan gemasnya. Sementara tangan kirinya ikut menyangga berat badannya, tangan
kanannya meremas-remas toket ku serta memijit-mijit pentilnya, sesuai dengan irama gerak
maju-mundur kontolnya di nonokku. “Sssh… sssh… sssh… enak om, enak… Terus…teruss…
terusss…,” desisku. Sambil kembali melumat bibirku dengan kuatnya, dia mempercepat
genjotan kontolnya di nonokku. Pengaruh adanya cairan di dalam nonokku, keluar-masuknya
kontol pun diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Aku tidak henti-hentinya merintih
kenikmatan, “Om… ah… ”

Kontolnya semakin tegang. Dilepaskannya tangan kanannya dari toketku. Kedua tangannya kini
dari ketiak ku menyusup ke bawah dan memeluk punggungku. Akupun memeluk punggungnya
dan mengusap-usapnya. Dia pun memulai serangan dahsyatnya. Keluar-masuknya kontolnya ke
dalam nonok ku sekarang berlangsung dengan cepat dan bertenaga. Setiap kali masuk, kontol
dihunjamkan keras-keras agar menusuk nonokku sedalam-dalamnya. Kontolnya bagai diremas
dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding nonokku. Sampai di langkah terdalam, aku membeliak
sambil mengeluarkan seruan tertahan, “Ak!” Sementara daging pangkal pahanya bagaikan
menampar daging pangkal pahaku sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar nonokku,
kontolnya dijaga agar kepalanya tetap tertanam di nonokku. Remasan dinding nonokku pada
kontolnya pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak masuknya. Bibir
nonokku yang mengulum kontolnya pun sedikit ikut tertarik keluar. Pada gerak keluar ini aku
mendesah, “Hhh…” Dia terus menggenjot nonokku dengan gerakan cepat dan menghentak-
hentak. Aku meremas punggungnya kuat-kuat di saat kontol dihunjam masuk sejauh-jauhnya ke
nonokku. Beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak!
Pergeseran antara kontolnya dan nonokku menimbulkan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srotttsrrrt…
Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecilku: “Ak! Hhh… Ak! Hhh…
Ak! Hhh…” “Sin… Enak sekali Sin… nonokmu enak sekali… nonokmu hangat sekali… jepitan
nonokmu enak sekali…” “Om… terus om…,” rintihku, “enak om… enaaak… Ak! Hhh…” Diapun
mengocokkan kontolnya ke nonokku dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke
dalam, kontolnya berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah
masuk sebelumnya. “Sin… aku… aku…” Karena menahan rasa nikmat yang luar biasa dia tidak
mampu menyelesaikan ucapannya yang memang sudah terbata-bata itu. “Om, Ines… mau
nyampe lagi… Ak-ak-ak… aku nyam…”

Baca Juga : Koleksi Kisah Dewasa Terbaru – Kisahku Diboking Om Om Hiperseks

Tiba-tiba kontolnya mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Dia tidak mampu lagi
menahan lebih lama lagi. Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding nonok ku mencekik kuat
sekali. Dengan cekikan yang kuat dan enak sekali itu, dia tidak mampu lagi menahan jebolnya
bendungan pejunya. Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontolnya disemprot cairan nonokku,
bersamaan dengan pekikanku, “…nyampee…!” Tubuhku mengejang dengan mata membeliakbeliak.
“Sin…!” dia melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuhku sekuat-kuatnya. Wajahnya
dibenamkan kuat-kuat di leherku yang jenjang. Pejunya pun tak terbendung lagi. Crottt! Crottt!
Crottt! Pejunya menyembur dengan derasnya, menyemprot dinding nonokku yang terdalam.
Kontolnya yang terbenam semua di dalam nonokku terasa berdenyut-denyut.

Beberapa saat lamanya kami terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali. Dia menghabiskan
sisa-sisa peju dalam kontolnya. Cret! Cret! Cret! kontolnya menyemprotkan lagi peju yang masih
tersisa ke dalam nonokku. Kali ini semprotannya lebih lemah. Perlahan-lahan baik tubuhku
maupun tubuhnya tidak mengejang lagi. Dia menciumi leher mulusku dengan lembutnya,
sementara aku mengusap-usap punggungnya dan mengelus-elus rambutnya. Aku merasa puas
sekali dientot om. Koleksi Cerita Seks Kisah Dewasa xxx 18+ Terbaru Terlengkap – Selingkuh Dengan Om Ku | www.kisahbiru.men

Baca Juga :

[Download Koleksi Anime XXX Terbaru]
Download