Kumpulan Cerita Sex Koleksi Kisah Panas Terbaru ML Sama Pembantu Dikamar Mandi
Kumpulan Cerita Sex Koleksi Kisah Panas Terbaru ML Sama Pembantu Dikamar Mandi

Cerita Sex Terbaru – ML Sama Pembantu Dikamar Mandi

[Total: 0    Average: 0/5]

Kumpulan Cerita Sex Koleksi Kisah Panas Terbaru – ML Sama Pembantu Dikamar Mandi – Halo ketemu lagi dengan KISAH BIRU.. Kali ini kembali lagi kami akan menghadirkan Kisah Panas terbaru dari kami yang pastinya tak kalah seru dan Hot dari kisah-kisah dewasa yang sebelumnya. Seperti apa kisahnya? langsung simak saja yukk!!

Saat itu aku diminta adikku untuk menjaga rumahnya karena keluarganya akan pergi hingga
sore hari. Menjelang keberangkatan mereka, aku sudah tiba di sana. Tina nama pembantunya
tidak ikut pergi dan tinggal di rumah karena kondisi perutnya yang kurang baik.
“Mas..” Tina pe

mbantu saya ada di rumah, perutnya agak kurang beres jadi gak bisa ikut“, Kata
adikku memberi tahu. “Oo..ya“, jawabku.

Tak berapa lama mereka telah berangkat. Aku bergegas memasukkan sepeda motor ke dalam
rumah dan Tina lalu mengunci pagar. Aku masuk rumah lalu cepat cepat duduk di depan
komputer, browsing, karena suami adikku memasang internet untuk mendukung pekerjaannya.
10 menit kemudian Tina menyajikan segelas es teh untukku. “Makasih ya Tin“, ucapku. “Iya
Pak..silakan diminum“, kata Tina. Pembantu-pembantu adikku memang dibiasakan memanggil
“Pak“ pada saudara-saudara majikannya, padahal terdengar sedikit asing di telinga. Tina lalu
kembali ke dapur, aku lalu meminum es tehnya, “Hah..segernya“, cuaca sedikit panas walau
agak mendung.
Tina kembali memasuki ruang keluarga, merapikan mainan-mainan anak adikku. Posisi meja
komputer yang kupakai buat nonton bokep dan mainan yang bertebaran di lantai jaraknya kira
kira 2 meter. Semula aku belum ngeh akan hal itu sembari mataku menatap layar komputer di
situs bokep.
Saat Tina mulai memasukkan kembali mainan-mainan ke keranjang, baru aku menyadarinya.
Sesekali aku meliriknya. “Sedikit putih ternyata anak ini. Bodynya biasa aja sih, langsing dan
kayaknya masih padat. Wah..ini gara-gara masuk situs bokep jadi mikir macem-macem“,
pikiranku berkata-kata.
Karena jarak kami yang lumayan dekat, maka ketika Tina bersimpuh di lantai merapikan mainan
di keranjang, otomatis kaosnya yang sedikit longgar memperlihatkan sebentuk keindahan yang
terbungkus penutup warna biru. Tina jelas tidak tahu kenakalan mataku yang sedang menatap
sebagian keindahan tubuhnya. “Andaikan aku…uhh..ngayal nih“. Tak terasa penisku mulai
membesar, Aku Ke kamar mandi mbetulin posisi penis..sambil kencing. Aku lupa kalau komputer
kutinggal dengan layar bergambar Maria Ozawa sedang disetubuhi di kamar mandi.
Aku lalu masuk kamar mandi membuka jins dan cd lalu mengeluarkan penis. Agak susah juga
kencing dengan penis yang sedikit tegang. Aku keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di
depan komputer, melanjutkan ngubek-ubek bokep. Cari camilan di meja makan, mencari apa
yang bisa dimakan untuk menemani kesibukan ngenet.
Rumah adikku tipe agak kecil, jadi jarak antar ruangan agak dekat. Letak meja makan dengan
kamar pembantu hanya 3 meteran. Kulihat dengan ujung mata, Tina sedang di kamarnya entah
beraktifitas apa. Selesai menyelesaikan buka komputer aku kembali ke ruang keluarga yang
melewati kamar pembantu dan kamar mandi mereka. 2detik aku dan Tina bertatapan mata
karena dia mau kekamar mandi, tidak ada sesuatu, biasa saja. Kumakan roti sambil bokep lagi.
Terdengar gemercik air di belakang. Mungkin Tina sedang mencuci perabotan dapur atau
sedang mandi. “Belum ambil air putih nih..“, tak ada maksud apa-apa dengan suara air tersebut.
Hanya kebetulan aku belum minum putih, walau telah ada es teh. Aku ke ruang makan lagi dan
mengambil gelas lalu menuju dispenser.
Baru setelah melewati kamar mandi pembantu ada yang special di sana. ”Lah..pintunya kok
sedikit terbuka. Tina lupa dan sedang apa di dalam..moga gak mandi. Bisa dilaporin ngintip aku”.
Masih tak terlihat kegiatannya, setelah tangan yang sedang menggapai gayung dan kaki yang
diguyurnya baru aku ngeh..Tina sedang mandi.
”Duhh..kesempatan sangat-sangat langka ini..tapi..kalo dia teriak dan nanti lapor adikku..bisa
gawat bin masalah. Berlagak gak liat aja ahh”. Aku menutup pintu kaca ruang makan dan
melewati kamar mandi Tina. Tiba-tiba ”Ahh..ada kecoak..Hush..hush..Aduhh..gimana nih”,
terdengar keributan di sana. ”ternyata dia takut kecoak toh”, aku tersenyum sambil pegang gelas
saat melewati kamar mandi.
”Pak..Pak”, Tina memanggilku. ”Walah..malah panggil aku. Gimana nih”. ”Tolong ambilkan
semprotan serangga di gudang ya Pak..cepet ya Pak..atau..”, tidak terdengar lanjutan
kalimatnya. Sejak Tina bersuara, aku sudah berhenti dan diam di dekat pintu kamar mandi.
”Atau..Bapak yang masuk pukul kecoaknya..mumpung masih ada”, lanjutnya. Deg..”Ini..antara
khayalan yang jadi nyata dan ketakutan kalo dilaporkan”, aku berpikir. ”Cepet Pak..kecoaknya di
dekat kloset. Bapak masuk aja..nggak pa-pa. Nggak saya laporin ke Bapak sama Ibu”, Tina tahu
keraguanku.
”Jangan ah..nanti kalo ada yang tau bisa rame”, jawabku. ”Nggak Pak..bener. Aduh..cepet
Pak..dia mau pindah lagi”, Tina kembali meyakinkanku dan meminta aku cepat masuk karena
kelihatannya si kecoak mau lari lagi. ”Ya udah kalo gitu. Bentar..ambil sandal dulu”. Sambil tetap
menimbang. Aku menaruh gelas di meja makan lalu mengambil sandal untuk membunuh kecoak
nakal itu. Entah rejeki atau kesialan bagiku tentang kemunculannya. ”Aku masuk ya Tin”, masih
ragu diriku. ”Masuk aja Pak”, Tina tetap membujukku. Kubuka pintu kamar mandi sedikit, lalu
kuintip letak kecoaknya, belum terlihat. Pintu dibuka lebih lagi oleh Tina. Kepalanya sedikit
terlihat dari balik pintu dan tangannya menunjuk letak kecoak, ”..tuh Pak mau lari lagi”. Aku
melihatnya dan mulai masuk.
Tina berdiri di balik pintu dengan menutupi sedikit bagian tubuhnya dengan handuk. Terlihat
paha, pundak dan daging susunya. Serta rambut yang diikat di belakang kepalanya, walau
hanya sedikit semua.
Handuknya menutupi bagian paha ke atas, perut hingga bagian dada, warna biru yang disangga
tangan kirinya. Semua hal itu dari ekor mataku, karena fokusku pada sang kecoak. ”Memang
mulus dan cukup putih”, masih sempat aku memikirkannya. Bagaimana tidak, jarak kami hanya
2-3 langkah, tidak ada orang lain lagi di rumah.
”Plak..plak”, kecoak pun mati dengan sukses. Aku guyur dengan air agar masuk ke lubang
pembuangan. Tanpa memikirkan lebih lanjut, aku lalu melangkah ke luar kamar mandi.
”Terima kasih ya Pak..sudah nolongin”.
”Oh..iya..”, sambil kutatap dia dan Tina tersenyum.
”Bapak nggak cuci tangan sekalian..di sini saja” tawar Tina.
”Wah..ini. Makin bikin dag dig dug”.
”Emm..iya deh”. jawabku.
Aku mencuci tangan dengan sabun yang ternyata posisi tempat sabun ada di belakang tubuh
Tina. Aku menengok ke belakang tubuhnya. Rupanya dia baru sadar, lalu mengambilkan sabun.
”Maaf Pak..ini sabunnya”.
Tina mengulurkan sabun dengan tersenyum. Sabun yang sedikit basah berpindah dan tangan
kami mau tidak mau bersentuhan.
”Makasih ya”, ujarku.
Aku mencuci tangan dan mengembalikan sabun padanya.
”Bapak nggak..sekalian mandi”, tanya Tina.
”Waduh..tawaran apa lagi ini. Tambah gawat”. ”Iya..nanti di rumah”.
”Nggak di sini saja Pak?”.
”Kalo di sini yaa di kamar mandi depan”.
”Di kamar mandi ini saja Pak..”.
”Nggaklah..jangan. Di depan aja. Kalo di sini ya habis kamu mandi”.
”Maksud saya..sekalian sekarang sama saya. Hitung-hitung Bapak sudah nolongin saya”.
Matanya memohon. sebuah lonceng menggema di kepala.
”Ini ajakan yang membahayakan, juga menyenangkan”, pikirku.
”Bapak nggak usah mikir. Saya nggak akan bilang siapa-siapa. Ya Pak..di sini saja”, dia
memahami kekhawatiranku.
”Emm..ya udah kalo kamu yang minta gitu”, jawabku.
Entah mengapa aku merasa canggung saat akan membuka kaosku, Padahal tidak ada orang
lain. Kubuka kaosku dan kusampirkan di cantolan yang menempel di tembok.
“Heh..ya iya”, kujawab dengan nyengir. Penisku sebisa mungkin kutahan tidak mengembang.
Sengaja kutatap matanya saat melepas cdku. Mata Tina sedikit membesar. Kusampirkan juga
cdku. Lalu dengan tenang Tina menyampirkan handuk biru yang sedari tadi menutup sebagian
tubuhnya. sekarang kami sama sama telanjang bulat dikamar mandi.
“Duh..pantatnya masih ok. Pinggangnya tidak berlemak. Sabar ya nak..kita liat situasi dulu”,
kataku pada sang penis sambil kuelus.
Tina lalu membalikkan badan. Cegluk, suara ludah yang kutelan. “Uhh..susu yang masih bagus
juga. Pentilnya nggak terlalu besar. Perutnya sedikit rata dan..hmm..rambut bawahnya hanya
sedikit”. Mau tidak mau, penisku makin mengembang dan itu jelas dilihat Tina. Kembali sebisa
mungkin kutahan perkembangannya. Tina lalu menggosok gigi dahulu. Karena aku tidak
membawa sikat gigi, hanya berkumur dengan obat kumur.
“Bapak saya mandiin dulu ya”, kata Tina.
“Terserah kamu”, jawabku sambil tersenyum.

Lihat Juga:
Cerita Dewasa Terbaru - Berawal Dari Mijit Tante Ida

(Baca Juga : Kumpulan Cerita Sex Terbaru – Ngintip Pengantin Baru Malah Dapet Bonus)

Kumpulan Cerita Sex Koleksi Kisah Panas Dewasa 18+ xxx Terbaru Terlengkap Paling Hot 2018 – ML Sama Pembantu Dikamar Mandi

Tina lalu mengambil segayung air, diguyurkan ke badan dari leher dan pundak. Mengambil lagi
segayung, diguyurkan ke perut dan punggung ditambah senyum manisnya. Ia lalu meraih sabun,
digosokkan ke leher, pundak, dada dan tangan kananku. Dibasahinya sabun dengan diguyur air
lalu digosokkan ke tangan kiri, perut, penis, bola-bolaku. “Uhh..gimana bisa nahan penis nggak
ngembang”. Bagaimana tidak, saat menggosok penis dan bola-bolaku sengaja digosok dan di
urutnya. Ditatapnya senjata kebanggaanku, lalu menatapku dan tersenyum. Aku hanya bisa
membalasnya dengan senyum juga.
Diambilnya lagi segayung air, sabun dibasahi dan sisanya diguyurkan ke paha dan kaki lalu
digosoknya. Kemudian mengambil segayung air dan diguyurkan ke badan depanku. Tak lupa
senjataku dibersihkan dari sisa-sisa sabun. Sedikit diremas oleh Tina. Kutahan keinginanku
untuk membalas perlakuannya, “biar Tina yang pegang kendali”.
“Balik badan Pak”, perintahnya. Air diguyurkan ke punggung dan bagian bawah badanku.
Digosoknya punggung, pantat, lalu paha dan kaki sisi belakang. Bonusnya, kembali menggosok
penis dan bola-bolaku dan meremasnya. “Duh..ni anak. Bikin senewen..sengaja membuat
panas“. Kembali air mengguyur tubuh belakangku, sebanyak 3x. Dibalikkan badanku lalu
mengguyur senjataku, digosok-gosoknya hingga sedikit memerah. Jantungku makin berdebar.
“Sudah selesai Pak“, kata Tina.
“Makasih ya Tin“. “Emm..kamu mau tak mandiin juga ?“, kepalang basah, kutawarkan
permintaan seperti dia tadi.
“Nngg..nggak usah Pak..ngrepoti Bapak“.
“Ya nggaklah..jadi imbang kan“. Langsung kuambil segayung air lalu kuguyur ke tubuh
depannya. Ia hanya menatapku.
Kuambil lagi segayung. Lalu sabun yang tadi tergeletak di pinggir bak mandi kuambil dan aku
basahi. Kugosok leher, pundak, dan kedua tangannya. Kubasahi sabun lagi dan kugosokkan ke
dada, kedua susu dan pentilnya, serta perut. Kutatap matanya saat kugosok kedua gunungnya
yang kumainkan sedikit pentil-pentilnya. Tina juga menatapku. Matanya mulai sedikit sayu. 1
menit-an kumainkan pentil–pentilnya, lalu sedikit kuremas susu kirinya. Bibirnya mendesah dan
“ohh..hhmm“. Kubasahi lagi sabun, dan kugosokkan ke pinggang, paha dan kedua kakinya.
Vagina luar hanya kusentuh sedikit dengan sabun, takut perih dan iritasi nanti. Itupun sudah
cukup membuat matanya makin meredup. Air segayung lalu kuguyurkan ke tubuhnya 2-3x.
Kugosok dan kuremas sedikit keras dua gunungnya. Sedikit berguncang. Dua tangan Tina
memegang pinggir bak mandi, mulai erat. Kumainkan lagi pentil-pentilnya.
Aku merundukkan badan dan kukecup pucuk-pucuk bunganya bergantian. Tak perlu lagi ijin
darinya. Tangan kiriku mengusap-usap lembut luar vaginanya. “Ouuh Paakk..“, Tina mulai
mendesah. Kukecup bibirnya lembut, “nanti dilanjut lagi“. Matanya seakan bernada protes, tapi
Tina diam saja. Kubalikkan tubuhnya, lalu kuguyur punggungnya sekarang. Sabun kugosokkan
ke punggung, pinggang, pantat. Sabun kubasahi lagi lalu kugosokkan ke paha dan kaki bagian
belakang. Aku menyusuri tubuh depannya lagi dari pinggang belakangnya. Tina sedikit
menggeliat geli. Kutangkupkan dua tanganku di dua susunya. Aku senang bermain-main di susu
yang bagus atau masih ok. Seluruh belakang lehernya aku cium dan kecup, begitu juga dua
kupingnya dan kubisikkan ”kamu diam saja ya..cup”. ”Geli Paakk..”, Tina mendesah lagi. Dua
pucuk bunganya makin mengencang dan keras. Aku menyentil-nyentil, kuputar-putar seperti
mencari gelombang radio. Dua tangan Tina mencengkeram paha depanku. ”Aahh..hmmppff”,
erangnya. Tangan kananku mengambil segayung air, kuguyur ke tubuh depannya. Kali ini
kuusap-usap vagina luarnya dengan tangan kanan, sedang yang kiri tetap di susu kanan Tina.
Pahaku makin dicengkeramnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan seiring kecupan dan
ciumanku di belakang leher dan daun-daun telinganya. Sesekali aku menyentuh bibir dalamnya.
Terasa telah menghangat dan sedikit basah. ”Ppaakkk..oohhh”. Tubuhnya mulai menggeliatgeliat.
Jari tengah kanan kumasukkan sedikit dan kusentuhkan pada dinding atas vaginanya,
sedang jempol kananku kutekan-tekankan di lubang kencingnya. ”Aauugghhh
Ppaakkk..eemmmppfff”. Kuku-kuku jemari Tina terasa menggores dua paha depanku. ”Kenapa
Tina..hmm..kamu sendiri yang memulai kan”, bisikku. Tangan kiriku meraih kepalanya dan
kupalingkan ke kanan, dan kutahan lalu kucium dengan nada 2 kecup 1 masukkan lidah. Tina
terkejut, matanya sedikit membesar tapi kemudian ia menikmatinya. Ganti tangan kananku
melakukan hal yang sama. Tina hanya bisa mengeluarkan suara yang tertahan
”nngg..emmppfftt..nnngggg”, begitu berulang. Vagina dalamnya makin hangat dan basah.
Secara tiba-tiba kuhentikan lalu kubalikkan badannya menghadapku. Kemudian aku sandarkan
tubuhnya di bak mandi. Aku kemudian berjongkok dan mulai mengecupi vaginanya. ”Jjanggann
Ppakk..jorok..”, dengan dua tangannya menahan laju kepalaku. Kutatap matanya dan ”sssttt..”,
jari telunjuk kanan kuletakkan di bibirnya. Dua tangannya kusandingkan di samping kiri dan
kanan tubuhnya.
Kukecup kecil, sekali dua kali. Kemudian lidahku mulai menjulur di pintu kenikmatan kami.
Mataku kuarahkan menatapnya. Tina agak malu rupanya, tetapi ada sedikit senyum di sana.
Lidahku makin intens menyerang vagina luar dan dalamnya. ”Ssuuddaahh
Pppaakk..aaaddduuuhh..oohhhh”, disertai geliat tubuh yang makin menjadi. Karena tak tahan
dengan seranganku, dua tangannya meremas dan sedikit menarik rambut dan kepalalu. Cairan
lavanya makin keluar. Dua tanganku mendekap erat buah pantatnya. Jari tengah kiriku sesekali
kumasukkan ke vagina dari belakang lalu kesentuhkan dan kutekan sedikit ke anusnya.
”Aammppuuunnn Pppaakkk..oouuuggghh..eeemmmpppfffs
ssuudddaahhh..ooohhhh”, matanya agak membeliak ke atas dan kepala serta rambutku
diremasnya kuat. Lava kepuasan dirinya mengalir deras, rasanya gurih sedikit manis. Kudekap
erat Tina dengan kepalaku di vaginanya dan pantatnya kuremas-remas. Kepalaku tetap diusap –
usap oleh Tina.
Ia menarik kepalaku dan menciumnya ganas. Lambat laun Tina dapat belajar dariku. Tangan
kanannya meremas dan menarik-narik penisku. ”Panjang ya Pak”, tanya Tina. ”Biasa kok
Tin..pingin ya..”, godaku. ”Aahh Bapak..”, jawabnya dengan memainkan bola-bolaku. Tina
merundukkan tubuhnya lalu tangan kirinya memegang penis dan menciumnya. Mungkin ia
belum pernah meng-oral suaminya dulu sebab penisku hanya dicium-cium dan diremas-remas.
”Kamu mau ngemut burungku Tin..kayak ngemut permen lolly ? Tapi kalo belum pernah ya
nggak usah..nggak pa-pa”. Tina menatapku dan kubelai rambutnya. Dengan wajah ragu
didekatkannya penisku di bibirnya. Tina mulai membuka mulut, sedikit demi sedikit penisku
memasuki mulutnya. Tina menatapku lagi, meminta penjelasan langkah selanjutnya.

Lihat Juga:
Cerita Seks Terbaru - Selingkuh Dengan Istri Pak Lurah

”Sekarang..kamu maju mundurkan dengan dipegang tanganmu. Yaa..gitu..oohh..hhmm”.
Rupanya muridku cepat mengerti penjelasan gurunya. Rambut dan kepalanya kubelai dan
kuremas-remas. ”Lalu..lidahmu kamu puter-puter di kepala penis atau di lubang kencing yang
bergaris panjang ituuu..yyyahhhh..sssuuudddaahh pppiiinnnttteeerrr kkkaaammuu Tttiinnnn”.
Kuangkat kepalanya dari penisku dan kami berciuman dengan panas. Saling meremas susu,
pantat dan kelamin masing-masing. Lalu kubalikkan lagi tubuhnya menghadap bak mandi. Dua
tangannya kuletakkan di pinggir bak mandi. Kembali aku bermain-main di gunung Tina. Penisku
yang telah panas dan mengacung sekali kudekatkan ke vaginanya. Kukecup-kecup pundak dan
leher belakangnya. Ikat rambutnya aku lepas sehingga dirinya terlihat makin seksi kala
menggeliat-geliat dan rambutnya tergerai ke sana kemari. Aku geser-geserkan penis di pintu
surgawinya, sengaja aku mempermainkan rangsangan pada Tina.

”Oohh..Ppaakk..mmaassuukkkiinn..Pppaakkk”, pintanya. ”Kamu mau burungku
kumasukkin..hmm.. ?”. ”Iyyyaa..Pppaakkk..aaayyyoo Pppaakk..”, rintihnya makin kencang.
Kumasukkan penis pelan-pelan. ”Eemmppff..”, erangnya. Lalu kuhentakkan pelan hingga
penisku terasa menyentuh dinding belakang. ”Ooouuggghh..Pppaakkkk..mentok Pppaakk”. Aku
menggerakkan tubuh pelan-pelan, kunikmati jepitan dinding-dindingnya yang masih kuat. Dua
tanganku tak henti bermain di dadanya. Kumainkan irama di vaginanya dengan hitungan 1-2
pelan 3 kuhentakkan dalam-dalam. Lalu tangan kananku meraih kepalanya seperti tadi dan
kucium panas bibirnya. Dinding vagina Tina makin hangat dan banjir sepertinya. Dua tangannya
mencengkeram erat pinggir bak mandi.

Sekarang tanpa hitungan, kumasuk keluarkan penis cepat dan kuat. ”Oohh..
oohh…hhmmppffftt..”, erang Tina berulang. Sedang aku sedikit menggeram dan
”oouugghhh..hhmmppff..mpekmu enaknya Tttiinn..”. ”Bbuurrruunnggg Bbbaapppakk
jjjuugggaaa”. Jarak pinggangku dan pantat Tina makin rapat. Tangan kanan kuusap-usapkan di
vaginanya. Dalam kamar mandi hanya ada suara tetes air satu-satu serta desah, bunyi
beradunya paha dan pantat dan erangan kami. ”Pppaaakkk..sssaaayyyaa mmaaauu..ooohhh..”.
”Tttuunnggguu Tttiiinnn..aaakkkuuu jjjuuggggaa..Di dalam apa di llluuaarrr”, tanyaku. ”Dddaa
lllammm aajjjaaa Pppaakkkk..oobbaattnyaa mmassihh aaddaa..”, jawab Tina. Mendengar itu
serangan makin kufokuskan. Segala yang ada di tubuhnya aku remas. Dua tangan Tina tak
tahan di pinggir bak mandi dan mencengkeram paha serta pantatku. Bibirku dicarinya lalu
”hhhmmmpppfffttt..”. Pantatku diremas kuat-kuat. Bibirnya dilepas dariku dan ”ooouuggghhh..”,
desah Tina panjang. Lava yang hangat terasa mengaliri penisku yang masih bekerja. Kepalanya
tertunduk menghadap air di bak mandi. Kudekap erat tubuh depannya. Kukecup dan kugigit
leher belakangnya. Lalu tangan kiriku meraih kepalanya dan kucium dalam-dalam. Dengan satu
hentakan dalam kumuntahkan magma berkali-kali. ”Ooouugghhh Tttiinnaahhh..hhhmmm..”.
kepalaku tertunduk di pundaknya dengan tangan kiri di susu sedang yang kanan di vaginanya.
Lama kami berposisi seperti itu. ”Makasih ya Tin..kamu baik sekali. Enak banget tubuhmu”,
kataku dengan membalikkan badannya dan kucium mesra bibirnya. Penis kumasukkan lagi,
masih ingin berlama-lama di hangatnya vagina Tina.
”Saya yang terima kasih Pak. Sudah lama saya pingin tapi sama orang nggak kenal kan nggak
mungkin Pak, Tina menjawab dan mencium bibirku pula.
Kubelai-belai kepalanya, ”kok bisa kamu pingin ngajak main sama aku ? Malah aku yang takut
kamu laporin”. Sambil mengusap-usap punggungku.
”Tadi waktu saya bersihin mainan adik, saya liat gambar di komputer. Terus waktu Bapak
kencing tadi kan lupa nutup pintu..keliatan burung Bapak yang agak gede pas keluar dari
celana”.

Lihat Juga:
Kisah Dewasa Terbaru - Pengalaman Diajarin Sex Sama Tanteku

(Baca Juga : Koleksi Kisah Dewasa Terbaru – Pengalaman Pertama Ngentot Sama Tante Erni)
”Oo gitu..nakal ya kamu. Bener kamu masih nyimpen obatnya ?”, sambil kucubit pipinya. ”Masih
kok Pak..sisa yang dulu”, jawab Tina. Makin lama terasa penisku yang mengecil. Kucium dalamdalam
lagi bibirnya.
”sekarang..mandi yang beneran”.
”Heeh..iya Pak”, Tina menjawab sambil tersenyum manis. Ia lalu memelukku erat. Aku
membalasnya dengan memeluk erat dan mengusap-usap punggung serta kepalanya. Tamat . Kumpulan Cerita Seks Koleksi Kisah Panas Terbaru Terlengkap Paling Panas – ML Sama Pembantu Dikamar Mandi

Baca Juga :