Cerita Seks Bergambar - Gairah Terpendam Janda Kesepian Bertubuh Montok

Cerita Seks Bergambar – Gairah Terpendam Janda Kesepian Bertubuh Montok

Posted on

Cerita Seks Bergambar – Gairah Terpendam Janda Kesepian Bertubuh Montok | yapp.. update lagu guy.. Cersek kali mengisahkan seorang wanita cantik bertubuh bohay sintal berdada montok, namun miris guys, doi sudah menjanda selama 3 tahun karena suaminya meninggal.. Nah, selama 3 tahun setelah kematian suami meki nya sama sekali belum tersentuh otong lagi.. ngak kebayang kan guys gimana nafsu yang terpendam selamu 3 tahun janda muda ini..hmm penasaran?? langsung baca ceritanya aja guyss..

KISAH BIRU | Tak puas-puasnya aku memandang seluruh tubuhku yang bugil di cermin, mulai dari leherku yang jenjang, buah dadaku
yang besar dan kencang (36C), indah dengan puting yang masih kemerahan, karena belum ada
satu mulut bayi pun yang menyusu di buah dadaku. Apalagi ditunjang dengan kulitku yang halus
dan putih mulus, membuat aku makin percaya diri bahwa lelaki manapunakan tertarik denganku.
Bulu-bulu hitam lebat yang menghiasi celah di antara pahaku menjuntai melambai tertiup AC di
kamarku. Kuputar badanku, kulihat belahan pantatku yang bulatmenantang, kakiku yang
panjang teras ideal menopang tinggi tubuhku yang 171 cm.

Tapi semua keindahan itu telah lama tidak tersentuh oleh tangan kekar lelaki, sejak kematian
suamiku 3 tahun yang lalu, belum ada satu orang pun yang mampu menggetarkan perasaanku,
meskipun banyak lelaki yang mencoba masuk dalam kehidupanku, tapi semuanya secara halus kutepis dengan alasan belum siap. Usiaku baru 26 tahun, masih muda. Kesepianku selama ini
kuisi dengan kesibukan kerja, saat malam tiba dan gairahku akan seorang lelaki muncul, paling
kupeluk guling erat-erat, kubayangkan bahwa yang kupeluk adalah seorang lelaki “macho”,
kugesekan klitorisku hingga aku orgasme. Sebenarnya aku ingin mencoba “Dildo”, tapi aku takut
kemaluanku lecet dan daya elastisnya melemah. Juga pernah terlintas dalam otakku untuk
menggunakan jasa “Gigolo” untuk memuaskan libidoku, tapi aku masih takut dan ragu.

“Tok, tok…” suara pintu kamarku terdengar diketuk membuyarkan lamunanku.
“Siapa?” sahutku.
“Saya, Nyah…” terdengar suara pembantuku di balik pintu.
“Ada apa, Bi?
“Ada tamu mau ketemu Nyonya…”
“Dari mana?” aku bertanya, sebab aku merasa tidak ada janji bertemu dengan siapapun.
“Katanya dari perusahaan asuransi, udah janji ingin bertemu Nyonya.”
Oh ya aku baru ingat, bahwa aku meminta perusahan asuransi datang ke rumahku pada hari
Sabtu ini, saat aku libur kerja, karena aku ingin merevisi asuransi atas rumah pribadiku yang
telah jatuh tempo. “Suruh dia masuk dan tunggu di ruang tamu, Bi!” bergegas aku mengenakan
pakaianku, hanya daster terusan tanpa bra dan celana dalam, karena aku tak mau tamuku
menunggu lama, wajahku pun hanya sedikit kuoles bedak. Setelah aku rasa rapi, bergegas aku
menemuinya.

Baca Juga : Kumpulan Kisah Seks Terbaru – Janda Kesepian Merindukan kontol Besar

“Selamat siang, Bu!” sapaan hormat menyambutku saat aku tiba di ruang tamu.
“Selamat siang,” aku membalas salamnya.
“Perkenalkan, Bu! saya Ronny marketing executive di perusahaan **** (edited),” tangannya
mengundangku bersalaman.
Aku menyambut uluran tangannya, dan mempersilakannya duduk. Sejenak aku perhatikan,
usianya kutaksir 25-an, tapi yang membuatku agak tertarik tadi saat posisi berdiri bersalaman,
aku sempat mengukur tinggi tubuhku hanya sebatas lehernya, aku perkirakan tingginya 180cman,
aku agak berkesan apalagi penampilannya bersih dengan kumis tipis menghiasi bibirnya,
wajahnya sih memang biasa saja.

Kami terlibat obrolan panjang tentang asuransi yang ditawarkan, ternyata orangnya supel dan
ramah, cara bicaranya mencerminkan wawasannya yang luas, pandangannya tidak “jelalatan”
seperti lelaki lainnya yang pernah aku temui, padahal puring buah dadaku yang tidak
menggunakan bra terlihat berbayang dibalik dasterku. Tak banyak pikir lagi, aku segera
menyetujuinya, apalagi preminya tidak terpaut jauh dengan asuransiku sebelumnya. Dia berjanji
akan datang kembali minggu depan membawa polis-nya.
Sepulangnya dia, aku masih membayangkannya, simpatik sekali orangnya, terutama tubuhnya
yang tinggi, hampir sama dengan almarhum suamiku. Juga aku teringat jawaban almarhum
suamiku bahwa orang yang tinggi agak kurus, 80% senjatanya panjang dan besar saat aku
bertanya, mengapa senjata Mas Rudy (almarhum suamiku), besar dan panjang? Aku sendiri
bingung, tak biasanya aku berpikiran seperti ini, apalagi baru pertama kali bertemu. Tapi aku tak
mau membohongi diriku, aku tertarik padanya. Waktu seminggu yang dijanjikannya terasa lama
sekali. Akhirnya tibalah hari yang dijanjikannya, aku berias secantik mungkin, meskipun tidak
mencolok, kusambut kedatangannya dengan manis. Kali ini kulihat Ronny mengenakan setelan
pakaian kerja lengkap dengan dasinya.

Setelah polis aku terima dan menyerahkan pembayarannya, aku mengajaknya mengobrol
sedikitmengenai pribadinya. Ternyata usianya 28 tahun, dengan status bujangan, dan masih
mengontrak rumah di daerah Kebayoran Lama, Jakarta.
“Ibu Linda sendiri, bagaimana?” kini dia balik bertanya kepadaku.
Kujelaskan statusku yang janda, kulihat wajahnya sedikit berubah.

“Maaf, Bu! kalau pertanyaan saya menyinggung perasaan Ibu.”
“Tidak apa-apa, toh gelar ini bukan saya yang menghendaki, tapi sudah suratan.”
Sejak tahu statusku janda, Dia jadi sering datang ke rumahku, ada saja alasannya untuk datang ke rumahku, meskipun kadang terkesan dibuat-buat. Hubungan kami menjadi lebih akrab,
diapun tidak memanggilku dengan sebutan “Bu” lagi, tapi “Mbak” sedangkan aku pun
memanggilnya Mas Ronny. Tapi yang aku heran dari Mas Ronny adalah sikapnya yang belum
pernah menjurus ke arah seks sedikitpun, meskipun sering kali kami bercanda layaknya orang
pacaran. Aku jadi berfikiran jelek, jangan-jangan Mas Ronny “Gay”. Padahal aku sudah tetapkan
dalam hati, bahwa Mas Ronny lah orang kedua yang boleh membawaku mengarungi samudera
kenikmatan.

Tapi ternyata pikiran jelekku tidak terbukti. Kejadiannya waktu malam Minggu Mas Ronny datang
untuk yang kesekian kalinya. Kami memutar film roman percintaan, bibiku sejak tadi sudah
masuk ke kamarnya tidak tahu ngapain. Mungkin sengaja memberi kesempatan kepada kami
anak muda yang sedang dilanda asmara. Saat adegan percumbuan berlangsung, aku
meliriknya, kulihat wajahnya sedikit memerah dan celana panjangnya yang berbahan tipis,
kulihat sedikit menggelembung, akubimbang. Akhirnya kutetapkan hatiku untuk memulai
percumbuan dengannya tapi bagaimana caranya?Aku ada ide agak tidak terkesan aku yang
mau, aku harus pura-pura sakit.

“Aduh Mas Ron! kepalaku sakit sekali,” aku mulai menebarkan jaring.
Kupegangi keningku yang tidak sakit, pancinganku berhasil, Mas Ronny menghampiriku.
“Kenapa Mbak?” tanyanya.
“Kok, tiba-tiba sakit.”
“Anu, Mas! tekanan darahku rendah, jadi kadang-kadang kambuh seperti ini,” aku terus merintih
layaknya orang kesakitan.
Aku membaringkan tubuhku di sofa.
“Mas, tolong bawa aku ke kamar,” aku semakin nekat.
Kulihat Mas Ronny kelabakan.
“Papah aku, Mas!”
Akhirnya Mas Ronny memapahku ke dalam kamarku, kutempelkan buah dadaku ke
punggungnya, terasa aliran kenikmatan di tubuhku. Dibaringkannya tubuhku di ranjang tidurku,
dan bergegas Mas Ronny keluar.

Kisah dewasa xxx 18+ Cerita Seks Bergambar Terbaru Terlengkap Paling Hot  – Gairah Terpendam Janda Kesepian Bertubuh Montok | www.kisahbiru.men

“Kemana, Mas?” tanyaku pura-pura lirih.
“Bangunin bibi.”
“Nggak usah, Mas, tolong keningku dibaluri minyak angin saja.”
“Minyak anginnya dimana?” tanyanya.
“Di meja Rias.”
Mas Ronny dengan telaten sekali memijat keningku, kurasakan jarinya sedikit gemetar.
“Mas tolong tutup pintu dulu, entar bibi lihat nggak enak,” aku baru sadar pintu kamarku masih
melongo.

“Sekalian Mas, TV-nya matiin dulu!”
Mas Ronny beranjak mematikan TV, aku segera melepaskan pakaianku, hingga tinggal Bra dan
celana dalam saja, kututupi tubuhku dengan selimut, Mas Ronny telah kembali ke kamarku dan
menutuppintunya.
“Mas tolong kerokin aja deh!” aku mulai memasang jurus.
“Lho, pusing kok dikerokin?”
“Biasanya aku kalau pusing begini Mas!” aku berkilah tak mau kebohonganku terbongkar.
Mas Ronny menurut, dan mencari uang logam untuk mengeroki tubuhku.
“Jangan pakai uang logam, Mas! aku biasanya pakai bawang.”
Setelah aku beritahu tempat bawang, Mas Ronny kembali lagi ke kamarku, kali ini kulihat
wajahnya sedikit berkeringat, tidak tahu keringat apa. Segera aku tengkurap,
“Cepat, Mas, kepalaku tambah pusing, nih!”
Mas Ronny membuka selimut yang menutupi tubuhku, dan…
“Mbak Linda, kapan melepas baju?” nadanya terkejut sekali.
“Tadi, waktu kamu keluar,” jawabku santai.
Hening sejenak, mungkin Mas Ronny masih bimbang menyentuh tubuhku.

“Ayo, Mas!”
“Iya… maaf ya Mbak!” aku mulai merasakan dinginnya air bawang di pundakku, gemetarnya
tangan Mas Ronny terasa sekali.
“Kenapa tangan Mas gemetaran?”
“iya, aku nggak biasa,” suaranya agak gugup.
“Rileks aja Mas,” aku mencoba menenangkannya.
Akhirnya gerakan tangan Mas Ronny semakin lancar di punggungku. Aku mulai merasakan bulu
kudukku bangun, terlebih saat tangan Mas Ronny mengeroki bagian belakang leherku. Segera
aku membalikkan tubuhku, kini buah dadaku yang besar tepat berada di hadapan Mas Ronny,
“Mbak, depannya aku nggak berani.”
Aku sudah tidak mau bersandiwara lagi,
“Mas, kalau depannya jangan dikerok, tapi dibelai,” kulihat wajahnya sedikit pucat.
“Memangnya Mas Ronny nggak mau?” aku menantangnya terang-terangan.
“Aku nggak pernah, Mbak…” jawaban polosnya membuat aku sadar bahwa dalam urusan seks
ternyata Mas Ronny tidak punya pengalaman apa-apa alias perjaka ting-ting.
Berpikir seperti itu, nafsuku kian bangkit, segera kudorong tubuhnya hingga rebah di
ataspembaringanku. Kubuka kancing bajunya dan melemparkannya ke lantai. “Mbakk, jangan…”
Mas Ronny masih berusaha menolak, tapi aku yakin suaranya hanya sekedar basa-basi, atau
refleksi dari belum pernahnya. Aku mulai menciumi bibir Mas Ronny, kumis tipisnya terasa geli di
bibirku. Tapi tak ada balasan.

“Mas Ronny kok diam saja,” aku bertanya manja.
“Tapi, Mbak jangan marah.. ya?” tanyanya bodoh.
Orang aku yang minta kok aku marah? Mungkin disentakkan oleh kesadaran bahwa dirinya
adalahlelaki, Mas Ronny langsung menyambar bibirku dan melumatnya. Aku berteriak senang
dalam hati, malam inilah dahagaku akan terpuaskan. Ciuman kami berlangsung lama, jari-jariku
bergerakmengusap dadanya, putingnya yang hitam kutarik-tarik, sementara jari-jari Mas Ronny
mulai membelai buah dadaku, usapannya pada puting buah dadaku, membuat syaraf
kewanitaanku bangkit, meskipun usapannya terasa agak takut-takut tapi kenikmatan yang aku
peroleh tidak berkurang.Apalagi tekanan keras di pahaku membuatku segera sadar bahwa
senjata Mas Ronny mulai bangkit.

Satu persatu pakaian kami bergelimpangan ke lantai, kini tubuh kami sudah bugil. Tubuhku
ditindih Mas Ronny, perlahan-lahan mulut dan lidah Mas Ronny mulai menggelitik puting buah
dadaku, yang terasa makin mengeras, “Mas… terusss… enak…” aku mulai merintih
nikmat.Tanganku segera menggenggam senjatanya, tapi sungguh mati aku kaget dibuatnya,
besar sekali.Lebih besar dari punya almarhum suamiku. Aku semakin bernafsu, kukocok
perlahan senjatanya yangkeras dan kokoh, Mas Ronny merintih tak karuan. Hisapannya
semakin keras di buah dadaku membalas kocokan tanganku di senjatanya. Aku sudah tak tahan
menunggu permainan Mas Ronny dibuah dadaku saja, nafsuku yang tertahan 3 tahun
membuncah hebat dan menuntut penyaluran secepatnya. Dengan penuh nafsu aku segera
ambil posisi di atas, tanganku terus mengocok senjatanya yang semakin panjang dan
membesar, lidahku mulai menjilati dadanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, pada bagian
putingnya kuhisap dan kugigit pelan. “Mbak Linda… aku nggak tahan…” Kupercepat gerakan
tanganku. Kulihat muka Mas Ronny semakin memerah. Mulutku yang mungil sampai pada
senjatanya yang kaku, kujilati seluruh batang senjatanya, kugelitik haluslubang atasnya.
Kumasukkan senjatanya ke dalam mulutku, “Uffhhh…” terasa penuh di mulutku, akibat besarnya
senjata Mas Ronny.

Mulutku mulai menyedot-nyedot, sementara tanganku terus mengocok batang senjatanya.
Remasan tangan Mas Ronny di rambutku semakin kuat, hingga akhirnya saat kuhisap kuat
dengan kocokankupercepat, aku merasakan tubuh Mas Ronny bergetar hebat dan… “Mbakkk…”
Mas Ronny menjerit,terasa cairan kenikmatan itu memenuhi mulutku, agak anyir, tapi aku
menelannya sampai tuntas. “Daaar…” memang perjaka tulen, sebentar saja senjatanya sudah
membesar kembali, dan siap bertempur. Aku segera berjongkok di atas tubuhnya, kuarahkan
senjatanya yang besar di lubang kewanitaanku yang sudah basah. Perlahan kuturunkan
pinggulku, seret sekali, mungkin terlalu lama tidak dimasuki senjata pria, apa lagi senjata Mas
Ronny yang besar dan panjang.

Baca Juga : Koleksi Cerita Dewasa Terbaru – Diservis Janda Montok

Aku merasakan sedikit sakit tapi lebih banyak nikmatnya. Saat
bulu kemaluan kami bertemu, dimana senjata Mas Ronny amblas seluruhnya ke dalam
kemaluanku, sulit digambarkan kenikmatan yang aku dapatkan. Aku diamkan sejenak menikmati
denyutan senjata Mas Ronny di liang kewanitaanku. Kulirik wajah Mas Ronny yang terpejam,
mungkin menikmati remasan kewanitaaanku di seluruh batang senjatanya.
Perlahan aku gerakkan pantatku naik turun, kian lama gerakan pinggulku kian buas, aku sudah
tak dapat menguasai lagi nafsuku yang sudah tertahan, sesaknya senjata Mas Ronny di
kemaluanku ditambah cairan pelumas dari tubuh kami masing-masing menimbulkan suara-suara
birahi seirama dengan gerakan pantatku. Akhirnya… “Mbakkk… aku nggak tahan…” aku
rasakan semburan hangat di kewanitaanku, aku semakin cepat… menggerakkan pinggulku
meraih puncak kenikmatan yang tinggal selangkah lagi, tapi senjata Mas Ronny keburu
melembek hingga akhirnya mengecil.Aku tambah panik dan histeris dengan nafsuku yang
tergantung. Aku mencoba membangkitkan kembali nafsu Mas Ronny, tapi setiap kali aku mau
orgasme, Mas Ronny selalu mendahuluiku.

Sampai sekarang meskipun kami jadi sering berhubungan badan tapi belum pernah sekalipun
aku orgasme. Kalau baru pertama aku masih bisa terima, tapi sudah yang kesekian kalipun
masih begitu. Entahlah, kalau buat keperkasaan. Mas Ronny jauh dengan almarhum suamiku
yang dapat membawaku ke puncak orgasme hingga 4 kali.

Saat cerita ini aku tulis, aku telah berpikir ingin menggantikan Mas Ronny dengan pria lain sebab
percuma biar senjatanya besar dan panjang tapi tidak tahan lama. Kisah dewasa Cerita Sex Bergambar Terbaru Paling Panas – Gairah Terpendam Janda Kesepian Bertubuh Montok

Baca Juga :