Cerita Dewasa Terbaru - Kisah Perselingkuhan Istriku Dengan Pak Lik

Cerita Dewasa Terbaru – Kisah Perselingkuhan Istriku Dengan Pak Lik

Cerita Dewasa Terbaru – Kisah Perselingkuhan Istriku Dengan Pak Lik | Cerita Dewasa kali ini mengisahkan tentang perselingkuhan seorang istri dengan pak lik nya yang terjadi didepan mata suaminya sendiri. Meskipun telah kepergok bermain kuda”an namun baik si istri maupun si pak lik tetap tak mengindahkan si suami.. waduh kasian banget ya guys suaminya haha.. namun si suami juga tak dapat berbuat banyak karena doi sangat mencintai istrinya dan tak mau kehilangan.. hmmm gokil abiss ni guyyss, langsung dibaca aja yuk ceritanya..

KISAH BIRU | Berikut ini adalah kisah perselingkuhan istriku saat kami pulang mudik. Sejak berkeluarga dan
tinggal di Bogor aku selalu sempatkan pulang mudik lebaran menengok orang tua dan mertuaku
di Yogyakarta setiap hari raya Idul Fitri. Biasanya kami mudik seminggu sebelum hari raya
lebaran, agar kami bisa puas merayakan idul fitri di sana.

Tahun ini aku dan istriku (dik rena namanya yang biasa aku panggil) terpaksa pulang mudik
berdua saja. Anak-anakku punya acara sendiri bersama teman-temannya yang susah aku
pengaruhi untuk ikut menemani kami untuk pulang mudik lebaran. Ya, sudah. Aku tidak suka
memaksa mereka. Ketiganya sedang beranjak dewasa dan harus bisa belajar mengambil
keputusan sendiri.

Menjelang masuk kota Kroya jam menunjukkan pukul 2 siang saat aku merasa agak demam.
Tubuhku melemah dan kepalaku mulai terasa pusing. Sambil berpesan agar menyupirnya tidak
usah buru-buru, istriku memberi obat berupa puyer anti masuk angin yang selalu dia bawa saat
bepergian jauh. Sesudah aku meminumnya, rasa tubuhku agak lumayan dan pusingku sedikit berkurang. Tetapi tetap saja tidak senyaman kalau tubuh sedang benar-benar sehat. Menjelang
masuk gerbang desa Redjo Legi menuju rumahnya Pak Lik, aku merasakan sakitku tak
tertahankan lagi. Kupaksakan terus jalan pelan-pelan hingga tepat jam 5 sore, mobilku
memasuki halaman rumah Pak Lik yang seperti biasanya, menyambut kami dengan sepenuh
kehangatan.

Ketika dia tahu aku sakit, dia panggil embok-embok di kampungnya yang biasa mijit dan
kerokan. Suatu kebiasaan orang Jawa kalau sakit, tubuhnya dikerok dengan mata uang logam
untuk mengeluarkan anginnya. Ketika sakitku tidak juga berkurang, dengan ditemani istriku, Pak
Lik mengantarkanku pergi ke dokter yang tidak jauh dari rumahnya. Dalam perjalanan ke sana,
tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Tak urung tubuh kami bertiga pun menjadi basah.
Untungnya jarak kami dengan klinik dokter itu sudah dekat, sehingga kami bisa cepat berteduh
di sana. Tanpa khawatir pakaian kami menjadi basah kuyup karenanya.
Dari dokter itu, aku diberi obat dan disuruh banyak istirahat. Selesai berobat, ternyata hujan
masih tetap deras di luar sana. Agak lama menunggu, Pak Lik menjadi tak sabar. Dia berinisiatif
untuk pulang duluan, bermaksud menjemput kami dengan mobilku. Aku dan istriku kompak
keberatan dengan rencananya itu. Meskipun klinik sang dokter tidak begitu jauh dari rumah Pak
Lik, sekitar 5 kiloan, kami merasa sangat tidak enak hati. Kami merasa telah banyak
merepotkannya sejak kedatangan kami tadi. Pak Lik yang baik hati itu tetap bersikeras, hingga
akhirnya kami mengalah.

Aku memperhatikan kepergiannya dengan perasaan khawatir bercampur kagum. Perasaan
khawatir muncul karena aku tidak ingin paman kesayanganku itu jatuh sakit karena hujanhujanan.
Sedangkan kekagumanku timbul melihat sosoknya saat ini. Kemeja kausnya yang
basah kuyup oleh air hujan, membuat tubuhnya yang atletis itu tercetak jelas. Ketika
pandanganku menoleh ke samping, aku bisa melihat pancaran kekaguman yang sama tersiar
dari wajah istriku. Dik Rena segera mengubah arah pandangannya begitu tahu aku
memperhatikannya.
Dalam perjalanan pulang, tak sengaja aku melirik ke arah istriku. Kuperhatikan wanita itu tak
lepas-lepasnya mengagumi Pak Lik secara diam-diam. Apalagi saat menjemput kami, Pak Lik
hanya mengenakan kaos singlet tipis dan celana jeans biru ketat. Seketika itu juga aku merasa
cemburu dan tidak nyaman dengan tingkah istriku itu.

Baca Juga : Kumpulan Kisah Dewasa Terbaru – Aku Janda 37 Tahun Ngentot Dengan Berondong

Sepulangnya dari dokter, lagi-lagi Pak Lik membuatku takjub atas kebaikan hatinya. Dibantu
istriku, Pak Lik merepotkan dirinya dengan menyediakan makan malam untuk kami bertiga.
Waktu makan malam itu kami pakai untuk mengobrol dan bersenda gurau penuh keakraban,
melepas kerinduan. Ketika kami menanyakan di mana anak-anaknya, dengan senyuman
ramahnya yang khas, Pak Lik menjawab bahwa kedua anaknya masih memiliki kesibukan di
kotanya masing-masing. Kesibukan itulah yang membuat mereka tidak bisa pulang mudik tahun
ini. Seusai makan malam, istriku menyuruhku meminum obat. Tak lama aku langsung diserang
kantuk yang luar biasa. Rupanya dokter telah memberikan obat tidur padaku bersamaan dengan
obat demamnya. Akupun langsung tertidur pulas.

Sekitar pukul 10 atau 11 malam, tidak begitu pasti, aku dibangunkan oleh suara berisik amben
bambu, disertai suara desahan dan lenguhan halus dari kamar sebelah. Kantukku masih sangat
terasa. Aku meraba-raba istriku tetapi tak kutemukan dia berbaring di sampingku. Aku menduga
mungkin perempuan itu sedang buang hajat di kamar mandi belakang. Di rumah Pak Lik, kamarkamarnya
memang tidak dilengkapi lampu. Cahaya dalam kamar cukup didapat dari imbas
lampu besar di ruang tamu. Ruangan yang berbatasan dengan ruang keluarga itu, membuat
cahayanya dapat tembus ke ruangan-ruangan lain di dalam rumahnya. Suara amben yang terus
mengganggu telingaku, ditambah suara desahan dan lenguhan yang semakin keras,
memaksaku mengintip ke celah dinding di samping kananku.

Apa yang kemudian kulihat di sana langsung memukul diriku. Akupun menjadi terpana kepalaku
yang pusing karena sakit langsung kambuh seketika. Aku kembali terkapar dengan jantungku
yang berdegup cepat. Benarkah sepasang manusia yang sedang asyik bergumul setengah bugil itu Pak Lik dan Dik Rena? Benarkah istriku telah tega mengkhianatiku? Benarkah Pak Lik yang
kebaikan hatinya sedang menggauli istriku saat ini? Perempuan yang seharusnya dianggap
sama dengan keponakannya juga?
Apakah kekuranganku Dik Rena? Karena kesibukan kerja yang selalu merampas waktuku,
membuatmu merasa berhak untuk menerima kenikmatan seksual dari orang lain? Termasuk dari
pamanku sendiri? Ataukah Pak Lik yang sudah 4 tahun menduda yang memulainya terlebih
dahulu? Dia merayumu dan kamupun tak mampu menolaknya? Lelaki tua yang macho seperti
diakah lelaki idamanmu?

Lihat Juga:
Kisah Ranjangku Dengan Tante Ita - Cerita Dewasa Terbaru 2019

Sejuta pertanyaan yang aku tidak mampu menjawabnya karena semakin menambah pusing
kepalaku. Sementara suara berisik dari amben itu menjadi semakin tak terkendali. Rintihan halus
istriku dan desahan berat Pak Lik juga terdengar semakin jelas di telingaku. Aku tak mampu
bangun karena obat yang kuminum tadi dapat membuatku limbung kalau tidak ada yang
menolongku. Aku hanya mampu mengintip dari celah dinding itu, tak mampu lebih jauh
mencegah tindakan tak senonoh dari pasangan laknat tersebut.
Di sana kulihat Pak Lik sedang asyik mengayun-ayunkan kontolnya, yang ukurannya
membuatku takjub, ke lubang memek istriku. Dia melakukannya sambil menciumi bibir istriku
penuh nafsu. Sialan! Kenapa bisa-bisanya saat ini aku merasa takjub pada kontol pamanku
sendiri? Kepada lelaki tua yang jelas-jelas telah mengkhianati diriku dengan menggauli istriku?
Tetapi memang kuakui, kontol pamanku itu pasti akan membuat lelaki mana saja yang
melihatnya jadi iri.

Selain gede, panjang dan kelihatan keras, kontol itu dihiasi dengan urat-uratnya yang
bersembulan di sekujur batangnya. Kepalanya yang bagaikan topi helm para tentara dan bentuk
batangnya yang melengkung ke atas, membuat kontol cokelat muda itu terlihat sempurna di
mataku.
Sementara itu sambil tetap berpelukan, tangan istriku terus memeluk kepala Pak Lik.
Perempuan binal itu tampaknya berusaha memastikan agar bibir-bibir mereka tetap saling
berpagutan. Saling melumat dan menghisap. Suara kecupan saat bibir yang satu terlepas dari
bibir yang lain terdengar terus beruntun. Di bawah sana, ayunan kontol Pak Lik yang semakin
dalam menghujam memek istriku, membuat ambennya terdengar semakin berisik.
“Pak Lik, Pak Lik, enaakk Pak Lik.. teruss Pak Lik.. oocchh.. hhmm.. Pak Lik..”
Duh, rintihan istriku yang begitu menikmati birahinya, membuat kepalaku seakan terpukul-pukul
palu. Darah yang naik ke kepalaku, membuat pusingku semakin menghebat. Sementara di
kamar sana, desahan Pak Lik sendiri tidak kalah hebatnya. Sebagai lelaki sehat yang telah
menduda selama 4 tahun, tentu kandungan libidonya sangat menumpuk. Bukan tidak mungkin
dialah pelakunya. Dia merayu istriku karena dia tahu aku tidak akan mudah terbangun karena
obat demam yang kutelan ini.

”Ssshhh… oohhh… oohh… enakkee, memekmu Dikkhh…” ujar Pak Lik.
”Aahh… sshhh… yaahh… terusshh… Pak… lagihhh… ooohh.. oohhh… lebihh… keraasshhh….”
balas istriku.
Kulihat buah dada istriku yang besar dan ranum, dengan pentilnya yang tegak mengacung,
sudah terbongkar dari balik kausnya. Itu pasti ulah nakal Pak Lik sebelumnya. Dia membetotnya
keluar untuk dilumati, dihisap, dan diremas-remas. Kedua pentil susu istriku itu pastilah sudah
basah kuyup oleh lumuran ludah pamanku. Istriku tampak sangat sensual saat dia memegang
erat kepala Pak Lik dan meremasi rambutnya. Ketiak-ketiak itu pastilah sudah merasakan jilatan
lidah pamanku, yang sejak tadi aktif bergentayangan menebar nikmat. Kembali aku ambruk ke
ambenku.

Rasa pusing di kepalaku sangat menyakitkan, tanganku berusaha memijit-mijit kepalaku sendiri
untuk mengurangi rasa sakitnya. Tetapi setiap kali aku mendengar suara erotis dari pasangan
mesum itu, akupun tergoda untuk kembali mengintip lubang dinding di sampingku.
Kulihat kontol Pak Lik terasa semakin sesak saja menembus memek istriku. Dia tarik keluar
pelan dengan dibarengi desahan beratnya dan rintihan nikmat istriku, kemudian mendorongnya
masuk kembali dengan desahan yang berulang. Dia lakukan itu berulang-ulang, desahan nikmat
dari keduanya juga terdengar berulang. Kemudian kulihat tusukan kontol Pak Lik semakin
dipercepat. Mungkin kegatalan birahi mereka terasa semakin menjadi-jadi.

Tak lama kulihat Pak Lik tidak lagi melumati bibir istriku. Dia turun dari amben dan menarik pelan
pinggul istriku ke pinggiran ambennya. Lalu dia mengangkat salah satu tungkai kaki istriku
sehingga menyentuh bahunya yang bidang. Dengan cara itu rupanya Pak Lik ingin bisa lebih
dalam menusukkan kontolnya ke memek istriku. Akibatnya kenikmatan luar biasa melanda
istriku. Dia meremas-remas sendiri susu-susunya. Kepalanya yang rambutnya telah acakacakan,
terus bergoyang ke kanan dan ke kiri, menahan nikmat yang tak terhingga.
Melihat itu hatiku menjadi semakin panas. Mereka benar-benar biadab. Mereka sudah tidak lagi
memperhitungkan aku, suami sahnya dan keponakannya yang kini berada di kamar sebelah,
tengah tergeletak karena sakit yang membuatku merasa hampir mati.

Kumpulan Cerita Dewasa Koleksi Kisah Seks Terbaru Terlengkap Paling Hot 2018 – Kisah Perselingkuhan Istriku Dengan Pak Lik | www.kisahbiru.men

Tiba-tiba selintas pikiran hinggap di kepalaku. Oh begitu rupanya…..
Aku jadi paham sekarang penyebab peristiwa terkutuk ini. Sebelum kami makan malam bersama
tadi, kami sempat bersalin pakaian terlebih dahulu. Berbeda denganku yang langsung
menggantikan pakaianku yang basah dengan pakaian cadangan, istriku menyempatkan diri
untuk mandi sejenak. Nah di rumah Pak Lik, letak kamar mandi dekat dengan dapur, hanya
dibatasi satu ruangan kosong multi fungsi. Saat istriku pergi mandi, Pak Lik memang sedang
berada di dapur untuk menyiapkan makan malam. Aku pikir mungkin inilah awal dari peristiwa
itu. Istriku yang memang suka dengan Pak Lik, sengaja mandi tanpa mengunci pintunya rapatrapat.
Tentu saja bagi lelaki yang lama menduda seperti Pak Lik, pancingan istriku itu bagaikan
rejeki nomplok. Pamanku mungkin memakai kesempatan itu untuk mengintip istriku mandi
secara leluasa.

Ketika aku kembali mengintip, tahu-tahu keduanya sudah berganti posisi. Kali ini pamanku
sudah berbaring di atas amben kembali, sementara istriku berada di atas tubuhnya, asyik
menungganginya. Pak Lik tampak asyik meremasi pantat istriku, sementara istriku asyik
bergerak naik-turun sambil meremasi payudaranya sendiri.
Tak lama gerakan mereka mulai berubah lagi. Keduanya bergerak semakin liar. Masih dengan
istriku menunggangi tubuhnya, pamanku bangkit dan langsung membenamkan wajahnya di
gunung kembar istriku. Di sana dia sibuk menyusui payudara istriku bergantian, yang kanan dan
yang kiri. Mendapat serangan yang menggila itu, istriku tampak semakin histeris. Desahan
birahinya terdengar semakin keras, membuat siapapun yang mendengarnya menjadi sangat
terangsang. Sementara di bawah sana, kontol pamanku tampak semakin mengkilat saja.
Berhiaskan lendir birahi istriku, kontol itu keluar-masuk memek istriku dengan cepatnya,
membuat suara ambennya semakin keras terdengar.

Lihat Juga:
Cerita Dewasa Terbaru - Diperkosa Perampok

Keduanya pun sudah bugil kini, Tiada lagi kaus putih yang membungkus tubuh pamanku
menyajikan pemandangan yang mengagumkan dari tubuh kekar berotot lelaki berusia setengah
abad, yang mengkilat oleh keringatnya. Begitu juga kaus tank-top hijau dan celana dalam Dik
Rena istriku yang tadi masih tersampir di salah satu kakinya, sudah hilang entah ke mana.
Membuat lekak-lekuk di tubuh sintalnya terlihat semakin jelas. Sekarang keduanya tampak
sangat seksi dan sangat serasi! Sesuatu yang aku benci sekali mengakuinya!!!
Pompaan kontol pamanku di memek istriku, suara beradunya paha dengan paha, desahan berat
Pak Lik dan rintihan nikmat tak berkeputusan istriku membuat simfoni erotis yang terdengar
sangat indah di malam yang dingin dan sunyi ini. Kalau tadi pompaan kontol Pak Lik tampak
cepat, sekarang kulihat gerakan mengayunnya semakin diperlambat. Rupanya pamanku sedang
mempraktekkan teknik bercintanya yang baru. Sekitar tiga atau empat kali pompaan biasa, dia
membuat satu hentakan keras dan bertenaga. Tampaknya dia berusaha membuat kontolnya
lebih dalam lagi menembus memek istriku. Begitu dia lakukan berkali-kali. Tentu saja istriku
semakin histeris dibuatnya.

Istriku seakan tidak mau kalah dengan Pak Lik. Sambil memeluk leher pamanku yang kokoh, dia
putar-putar pinggulnya secara liar, memainkan kontol lelaki tua yang sejak tadi aktif memompa
memeknya. Desahan berat pamanku terdengar semakin keras dan tak berkeputusan merasakan
nakalnya pantat dan pinggul istriku saat memainkan ”tongkat saktinya“. Jeleknya Dik Rena,
teknik seperti itu tak pernah dia praktekkan kepadaku saat kami bercinta. Benar-benar setan
wanita itu!!!
Kusaksikan saat ini, mereka sudah sangat lupa diri. Kenikmatan nafsu birahi telah
menghempaskan mereka ke sifat-sifat hewaniah yang tak mengenal lagi rasa malu, sungkan,
iba, hormat dan harga diri. Mereka sudah hangus terbakar oleh nafsu birahi yang menggelora.
Menjadi budak nafsu setan yang bergentayangan di dalam diri mereka sendiri. Aku terbatukbatuk
dan mual. Pusing kepalaku langsung menghebat. Sementara racauan penuh nikmat yang
dari mulut keduanya terdengar tak berkeputusan dan semakin keras.
Dengan suara yang sengaja kukeraskan aku mengeluarkan dahakku ke ember yang telah
disediakan, disusul dengan muntah-muntah benaran. Aku berharap dengan tindakanku itu
segalanya pasti berhenti. Mereka akan bergegas menolong diriku. Tetapi yang terjadi justru
sebaliknya. Suara amben itu justru terdengar semakin berisik. Sehingga kini ada dua sumber
berisik di dalam rumah ini. Suara manusia yang sedang tergeletak kepayahan di kamar ini dan
suara erotis manusia, berkejar-kejaran dalam nafsu setan di kamar itu.

Aku tahu mereka dalam keadaan tanggung. Puncak nikmat sudah dekat dan nafsu birahi untuk
memuntahkan segalanya sudah di ubun-ubun. Mereka pasti berpikir, biarkan saja aku menunggu
di sini. Membiarkan aku sendiri dengan gelisah, pusing, campur sakit hati akibat dikhianati.
Edannya, tak lama aku justru terpengaruh oleh mereka.
Kontolku yang ukuran panjang dan diameternya hanya setengah dari kontol Pak Lik telah
terbangun dari tidurnya. Walaupun pusing di kepalaku masih tetap menghebat, kontolku berdiri
dengan tegangnya, terangsang oleh desahan erotis yang sangat memukau dari kamar sebelah.
Aku berusaha mati-matian untuk meredam kontolku yang terus menegang gara-gara suara
erotis itu, sebelum akhirnya aku kembali tergoda untuk mengintip kembali. Aku ingin tahu sejauh
mana pamanku itu bisa memuaskan Dik Rena istriku itu.
Saat kembali aku mengintip, keduanya sedang berancang-ancang untuk berubah posisi lagi.
Rupanya gairah seksual yang menggebu-gebu membuat stamina mereka seakan tiada
batasnya. Masih dengan pamanku berbaring di atas amben, istriku segera memutar tubuhnya.
Kepalanya mengarah ke selangkangan Pak Lik, sedangkan selangkangannya dia arahkan ke
kepala pamanku. Oooo… rupanya mereka ingin saling menjilati kemaluan lawan mainnya, posisi
69.

Kembali desahan berat dan rintihan nikmat terdengar saling bersahutan. Wajah Dik Rena
tampak timbul tenggelam di antara selangkangan pamanku, begitu pula sebaliknya. Dalam
posisi ini mereka terlihat saling berlomba memberikan kepuasan dalam menikmati kemaluan
pasangannya. Hisapan, jilatan dan kocokan tangan istriku di kontol pamanku beradu cepat
dengan jilatan, hisapan, dan tusukan jari-jari kekar Pak Lik di memek Dik Rena.
Posisi cabul yang baru itu sontak membuat hatiku tambah panas saja. Dik Rena selalu menolak
perintahku untuk mengulum kontolku dengan berbagai alasan. Sebaliknya terhadap pamanku,
dia melakukannya dengan senang hati. Lihatlah itu… betapa intensnya dia menjalari batangan
kaku dan kekar milik pamanku dengan lidahnya… Betapa semangatnya dia menyedot-nyedot
’helm tentara‘nya… Betapa tekunnya dia menghisap-hisap ’kantung menyan’ Pak Lik… Betapa
wajahnya sangat menikmati kegiatan cabulnya itu.
Sebaliknya Pak Lik seakan tidak mau kalah. Dia tak hanya menjilat, menghisap dan
menusukkan jari-jarinya ke lubang memek istriku saja. Pak Lik juga turut menjilati lubang anus
istriku sambil sesekali jari-jarinya yang kasar menusuk lubangnya. Membuat erangan nikmat
keduanya, terdengar semakin keras bersahut-sahutan. Sekali lagi aku hanya bisa merutuk
melihat kenyataan itu. Sungguh bangsat pasangan laknat itu!!!
Adegan seru itu tidak berlangsung lama. Begitu dirasanya puas, mereka berganti posisi lagi.
Masih di atas amben, keduanya segera memposisikan diri. Tak lama mereka sudah kembali
bergoyang-goyang. Mereka bercinta dalam gaya anjing di kamar itu. Hanya saja bukan lubang
memek istriku lagi yang menjadi sasaran keganasan kontol Pak Lik, melainkan lubang anus Dik
Rena.

Kulihat istriku tampak termehek-mehek merasakan betapa nikmatnya lubang anusnya dijejali
kontol sebesar itu. Memang ada sedikit bayangan rasa pedih di wajah cantiknya, tetapi
perempuan binal itu justru menyemangati Pak Lik agar lebih liar lagi dalam memompa anusnya.
”Aaahhhsss… aahhhsss…. aaahhhsss… Teeerrruussshhh… Paakkk… Eennnaaakkkhhhh…“
’’Hhhoohhhh… hhhooohhhh… Diiikkksss…. Diikkksss… apaanyaahhh… yaanngghh…
hhhooohhh… ooohhh… Ennaaakkkhhh…?“ pancing pamanku.
“Ittuuhhh… ooohhh…. aaahhhsss… kooonnntttooolll… Paakkkhhh… Liiikkkhhhsss…
Eennnaaakkhhh…“ sahut Dik Rena.
“Mmaassaaahhh sssiiihhh caannnttiikkkhhh… Ennnaaakkkhhh… aahhh… betuuulllsss…
ennnaaakkkhhh… kontoolllsshhhkkuuu… iiinnniiihhhh?“ ujar Pak Lik dengan terus menyodok
anus istriku tanpa ampun.
“Aaahhhsss… ooohhh… aaahhhsss… bbbeeennnaaarrrkkkhhh… aaakkkhhh… aaahhh…
Eennnaaakkkhhh…. sssuumpppaaahhh…“ balas istriku dengan matanya yang merem melek
keenakan.

Lihat Juga:
Cerita Dewasa Terbaru - Tante Yuki Perenggut Keperjakaanku

Kuakui lubang anusnya masih perawan, karena Dik Rena selalu menolak kalau anusnya dientot
olehku. Bangsat!!! Hanya itulah ungkapan yang pantas mewakili kekesalan hatiku saat ini
kepada Dik Rena.
Gerak dan ayun pasangan laknat itupun sampai di puncaknya dalam posisi ini. Ketampanan
wajah Pak Lik dan kecantikan wajah istriku menjadi jelas terlihat. Desahan berat pamanku
bersahut-sahutan dengan erangan histeris istriku, merasakan nikmatnya anal seks itu. Rambut
Dik Rena yang indah dijadikan tali kekang oleh tangan kanan Pak Lik. Sementara tangan kirinya,
memegangi pinggul istriku sambil aktif mengocok lubang memeknya dengan jari-jemarinya.
Sedangkan kedua tangan istriku mencengkram pinggiran amben itu dengan erat.
”Pppaakkk… Liiikkkhhh… ooohhh… terusshhh… Paakkk… eennnaaakkk… Paaakkkk…”
”Ooohhh… Dddiiikkk… Ooohhh… ooohhhh… aaannnuuusss… mmmuuhhh… eeennnaaakkk…
banggeeetttt… ”
”Ooohhh… terussshhh… aaahhh… terussshhh… Paaakkk… Leebiiihhh… Keraassshhh…
Aaahhhh… Aaahhh… Laaggiiihhhh…. ”
Ketika ejakulasi mereka akhirnya hadir, suara-suara di rumah ini benar-benar gaduh. Aku yang
muntah-muntah tanpa henti dengan suaraku seperti seekor babi yang sedang disembelih
bercampur dengan suara histeris Pak Lik bersama istriku, meraih orgasme mereka secara
beruntun, diakhiri ejakulasi yang datang hampir bersamaan. Untuk sesaat suara amben masih
terdengar berisik untuk kemudian reda dan sunyi, berganti dengan suara-suara kecupan bibir,
suara pujian saling memuja, dan suara nafas yang tersengal-sengal. Sementara di sebelah sini
aku masih mengeluarkan suara dari batukku disertai dengan rasa mau muntah yang keluar dari
tenggorokanku.

Tak lama istriku muncul di pintu. Dipegangnya kepalaku.
’Ah, kok semakin panas mas, obatnya diminum lagi ya?’ katanya.
Kemudian dengan kuat tangannya meringkus kepalaku dan memaksakan obat cair itu masuk ke
mulutku. Aku terlampau lemah untuk menolaknya. Saat jari-jarinya memencet hidungku, aku
yang mengalami kesulitan nafas, terpaksa menelan habis seluruh obat yang disuapkannya ke
dalam rongga mulutku. Kemudian disuruhnya aku minum air hangat. Sebelum air itu habis
kuteguk aku sudah kembali jatuh tertidur pulas. Praktis aku tidak punya alibi sedikitpun atas apa
yang selanjutnya terjadi di rumah ini hingga 6 jam kemudian saat aku terbangun.
Jam 9 pagi esoknya aku terbangun lemah. Pertama-tama yang kulihat adalah dinding di mana
aku mengintai selingkuh istriku dengan Pak Lik. Aku marah pada dinding itu. Kenapa begitu
banyak lubangnya sehingga aku bisa mengintip. Aku juga marah pada diriku sendiri, kenapa aku
yang sakit ini masih-masihnya tergoda untuk mengintip ke dinding itu. Menyaksikan istriku yang
sedang asyik menanggung nikmat, digojlok secara brutal oleh pamanku. Tapi saat aku ingin
teriak karena teringat peristiwa semalam, Dik Rena muncul di pintu kamar. Pandangan matanya
terasa sangat lembut dan perhatian. Dia mendekat dan duduk di ambenku. Dia ganti kompres di
kepalaku dengan elusan tangannya yang lembut sambil berkata,
“Mas Roso (begitu dia memanggilku) semalaman mengigau terus. Panas tubuhnya tinggi. Aku
jadi takut dan khawatir. Pak Lik bilang supaya aku ambil air dan kain untuk mengompres kepala
Mas Roso”
Mendengar mulutnya menyebut ‘Pak Lik’ yang aku ingat betul sama persis nada dan
pengucapannya saat dia asyik bergelut dengan pamanku semalam, seketika itu darahku
mendidih. Tanganku seketika mencekal blusnya. Aku ingin sekali menampar wajahnya yang
cantik itu. Tetapi senyum teduhnya kembali hadir di bibirnya.

Baca Juga : Koleksi Cerita Sex Terbaru – Kisah Persetubuhanku Dengan Om ku Sendiri

“Hah, apa lagi mas, apa lagi yang dirasakan, sayang?” ucapnya lembut tanpa prasangka apapun
atas perlakuan kasarku barusan, menatapku dengan air mukanya yang anehnya tampak tetap
suci bersih.
Langsung didih darahku surut. Aku tak mampu melawan kelembutan sikap dan senyumnya yang
menawan itu. Kutanyakan padanya di mana Pak Lik sekarang, dengan bola mata berbinar Dik
Rena menjawab pamanku sedang berada di sawahnya. Hari ini giliran dia untuk membuka
pematang agar air sungai mengalir ke sawahnya. Dia juga bilang agar aku banyak istirahat saja
dulu. Dia sudah menelepon orang tua di Yogya dari HPku, mengabarkan bahwa aku sakit dan
akan istirahat dulu di Redjo Legi selama 3 hari ke depan. Rupanya demamku sangat parah
sehingga aku harus dirawat di Redjo Legi selama 3 hari penuh. Kemudian dia beranjak dan
kembali dengan sepiring bubur sum-sum, aku disuapinya.

Aku jadi berpikir apa yang sesungguhnya terjadi tadi malam. Apakah panas tubuhku yang
sangat hebat, telah membawaku ke alam mimpi? Sampai-sampai aku mengigau sepanjang
malam sebagaimana kata istriku, ataukah perselingkuhan Pak Lik dengan istriku itu memang
benar-benar sebuah kenyataan? Kembali kepalaku berputar-putar rasanya. Istriku kembali
mencekokiku dengan obat yang dibawanya. Akupun kembali tertidur.
Sebelum aku terlelap benar, istriku dengan penuh kasih memeluk kepalaku. Dia mengelus-elus
kepalaku sambil mendekatkannya ke dadanya. Pada saat itu aku merasakan semburat aroma
yang lembut menerjang ke hidungku. Aroma yang sangat kukenal, aroma ludah dan sperma
lelaki yang telah mengering. Aroma itu menguar dari payudaranya dan bagian lain tubuhnya.
Obat tidurku tak memberi kesempatan padaku untuk melek lebih lama. Aku kembali pulas
tertidur.

Selanjutnya selama 3 hari ke depan, setiap malam aku selalu benar-benar terlelap, sehingga tak
lagi tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka, Pak Lik dan istriku, selama sisa hari-hari itu.
Saat berpamitanpun, aku tidak melihat tanda-tanda mencurigakan itu dari wajah keduanya saat
mereka sedang berpamitan. Keduanya berpisah secara sewajarnya.
Sampai kini, 6 bulan sesudah peristiwa itu, aku tetap tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi.
Apakah peristiwa mesum itu hanyalah khayalanku belaka atau memang benar-benar terjadi?
Aku tidak mempunyai alibi apapun untuk mempertanyakan keinginan tahuanku pada istriku.
Juga tidak punya keberanian untuk itu karena aku sangat khawatir akan kehilangan dirinya. Koleksi Cerita Dewasa Kumpulan Kisah Sex XXX 18+ Terbaru Terlengkap Paling Panas – Kisah Perselingkuhan Istriku Dengan Pak Lik.

Baca Juga :